Mengenali Kejadian Kebakaran di Jakarta


Daerah Khusus lbukota Jakarta, merupakan lbukota Negara Republik Indonesia dengan area 667 Km2 dan populasi sekitar 12.000.000 penduduk, memegang peranan penting baik dari skala intenasional, nasional maupun regional/lokal.

Dalam skala Internasional DKI Jakarta diharapkan menjadi setara dengan kota-kota besar lainnya di dunia, seperti : Tokyo, Hongkong, Los Angeles, Sydney dan Singapura. Dalam skala nasional DKI Jakarta adalah tempat pusat pemerintahan, pusat dari berbagai kegiatan yang berhubungan dengan perdagangan, industri, pusat pariwisata sekaligus berfungsi sebagai Kota Jasa/ Service City. Dalam skala Kawasan Metropolitan Jabodetabek, DKI Jakarta adalah sebuah kota utama yang dikelilingi kota-kota lainnya.

Sebagai lbukota Negara, DKI Jakarta berkembang pesat dalam tingkat populasi penduduk, ekonomi dan aspek-aspek lainnya, sementara di sisi lain juga timbulnya permasalahan dalam pemanfaatan ruang/lahan, fasilitas infrastruktur terutama tidak seimbangnya antara keberhasilan pembangunan fisik dengan sarana dan prasarana pelayanan publik terutama pelayanan keamanan, keselamatan dan kenyamanan kota. Salah satu cerminan hal ini adalah dalam penanggulangan bencana kebakaran. Untuk itu, pengenalan atas rekaman kejadian kebakaran di Jakarta merupakan landasan dalam upaya perumusan langkah-langkah penanggulangan bencana kebakaran itu sendiri.

Kejadian bencana kebakaran di Provinsi DKI Jakarta dari waktu ke waktu secara rata-rata senantiasa menunjukkan gejala yang tetap. Secara rata-rata laju pertambahan bencana kebakaran di Jakarta sebesar 2.57% per tahun, untuk kurun 1981 – 2000.

 

Gambar 1

Sumber : Dinas Pemadam Kebakaran 2005.

Secara visual, hal ini dapat dilihat pada Gambar 1. Wilayah yang kerap mengalami kebakaran,  Untuk menangkap gambaran kejadian kebakaran di 5 wilayah, kiranya dapat dilihat Gambar 2 dan Gambar 3.

 

Gambar 2

Sumber : Dinas Pemadam Kebakaran 2005.

 

Gambar 3

Sumber : Dinas Pemadam Kebakaran 2005.

Secara umum, pada kurun 1981 – 2000, frekuensi kebakaran di tiap wilayah menunjukkan gejala naik dan turun, tidak ada wilayah yang memiliki dominasi tertentu. Untuk memperjelas hal ini, kiranya Gambar 4 yang mengungkapkan kondisi di tahun 2000 dapat ditelaah.

 

Gambar 4

Sumber : Dinas Pemadam Kebakaran 2005.

Terlihat bahwa distribusi jumlah kejadian kebakaran hampir/relatif berimbang di ke-5 wilayah. Walaupun demikian, Kota Administrasi Jakarta Timur menunjukkan laju pertambahan tahunan rata-rata tertinggi (9.14% per tahun), di atas Jakarta Pusat (0.24% per tahun), Jakarta Utara (4.53% per tahun), Jakarta Barat (2.55% per tahun), dan Jakarta Selatan (3.52% per tahun).

Listrik merupakan penyebab dominan kebakaran di Jakarta, sebagaimana dapat ditelaah pada Gambar 5.

 

Gambar 5

Sumber : Dinas Pemadam Kebakaran 2005.

Hal ini berjalan sejak tahun 1981 sampai 2000. Untuk lebih jelasnya Gambar 6 memotret kondisi untuk tahun 2000. Sementara itu, kompor dan rokok merupakan penyebab berikutnya yang patut diwaspadai, karena perannya dalam memberi nuansa penyebab kebakaran. Dalam perjalanan waktu, listrik menunjukkan laju pertambahan tahunan rata-rata sebesar 2.98% per tahun, di bawah rokok (31.65% per tahun) dan lampu (9.49% per tahun).

 

Gambar 6

Sumber : Dinas Pemadam Kebakaran 2005.

Jumlah masyarakat dan kepala keluarga yang menjadi korban kebakaran dapat ditelaah di Gambar 7.

 

Gambar 7

Sumber : Dinas Pemadam Kebakaran 2005.

Secara umum terjadi kenaikan jumlah, dengan laju kenaikan tahunan rata-rata sebesar 25.16% per tahun (jiwa masyarakat), dan 15.03% (kepala keluarga). Ada tahun-tahun tertentu, di mana jumlah masyarakat yang menjadi korban menunjukkan jumlah yang besar, yakni pada tahun 1985, 1992, 1995, 1996, 1997 dan 1998.

Dari sisi aspek korban langsung, berupa kematian dan luka-luka, kiranya Gambar 8 dapat memberikan gambaran bahwa jumlah korban yang mati secara tahunan rata-rata menunjukkan kenaikan yang sangat tinggi, yakni sebesar 85.52% per tahun. Pada sisi lain, korban yang mengalami luka-luka “hanya” mengalami kenaikan tahunan rata-rata sebesar 16.88% per tahun.

 

Gambar 8

Sumber : Dinas Pemadam Kebakaran 2005.

Gambar 9 mengungkapkan visualisasi luas kerugian akibat kebakaran, yang jika dihitung secara cermat memberikan angka kenaikan tahunan rata-rata sebesar 19.25% per tahun. “Untungnya” angka ini masih di bawah kenaikan nilai rupiah dari kerugian, yang divisualisasikan oleh Gambar 10. Laju pertumbuhan nilai rupiah tersebut adalah sebesar 46.77% per tahun.

 

Gambar 9

Sumber : Dinas Pemadam Kebakaran 2005.

 

Gambar 10

Sumber : Dinas Pemadam Kebakaran 2005.

Dari uraian di atas, terlihat bahwa angka laju pertumbuhan tahunan rata-rata (average annual growth rate) memiliki nilai yang cukup besar untuk :

  1. Perkembangan kejadian kebakaran di Kota Administrasi Jakarta Timur : 9.14% per tahun.
  2. Perkembangan penyebab kebakaran rokok : 31.65% per tahun.
  3. Jumlah jiwa masyarakat yang menjadi korban : 25.16% per tahun.
  4. Jumlah Korban mati : 85.52% per tahun.
  5. Nilai rupiah dari kerugian : 46.77% per tahun.

Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa untuk kurun tahun 1981 sampai tahun 2000, bencana kebakaran di Kota Jakarta senantiasa menunjukkan kecenderungan meningkat.

Kiranya informasi di atas perlu diperluas hingga ke tahun 2011. Pengenalan mendalam atas informasi ini akan menjadi salah satu landasan bagi perumusan upaya penanggulangan bencana kebakaran di Jakarta.

Keterangan : Ditulis pada tanggal 3 Oktober 2011.

Sumber :

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: