Bangsa Yang Kaya Konsep


Belum lekang dari ingatan kita, lengsernya Presiden Suharto segera disambut dengan bergaungnya gagasan Good Governance. Good Governance yang antara lain memuat : responsif, partisipatif, transparans dan akuntabilitas, mendapat sambutan hangat berbagai lapisan masyarakat, yang kala itu sudah jenuh dengan berbagai praktek-praktek “abu-abu”. Namun, setelah sekian lama waktu berjalan, rasa-rasanya realisasi konsep ini masih belum kelihatan jelas. Apa iya sudah responsif ? Rasanya kinerja layanan umum belum mencerminkan hal tersebut. Transparansi ? Jangan ah, nanti jadi susah untuk sulapan.

Seiring dengan reformasi tersebut, timbul gagasan instansi tertentu bahwa untuk melaksanakan kegiatan pembangunan di Indonesia, diperlukan paradigma pembangunan baru : otonomi daerah, pemberdayaan masyarakat, pro-bisnis, transparansi, akomodatif, globalisasi, keterpaduan, keberlanjutan (sustainability), dan prioritising. Katanya, gagasan ini sudah mewarnai berbagai kebijakan, strategi, program dan proyek instansi tersebut.

Gagasan lain pada masa itu adalah pergeseran peran dari provider menjadi enabler. Katanya, dalam menghadapi perkembangan dunia yang semakin cepat, Pemerintah tidak dapat diharapkan untuk berperan sendiri. Selain keterbatasan sumber daya, pada masyarakat yang selama ini didudukkan sebagai objek pembangunan, telah terbit kehendak untuk lebih berperan aktif sebagai subjek pembangunan. Namun coba kita lihat dari sisi masyarakat. Kalau untuk urusan yang ada fulusnya, rasanya pemerintah lebih berperan sebagai provider. Namun, jika urusan tersebut bersifat non-profit, maka barulah pihak pemerintah cenderung menjadi enabler, antara lain melalui CBD (community based development), pelatihan, dan pemberdayaan. CBD ? Gagasan apa lagi ini ?

Gagasan lain yang kira-kira 20 tahun lalu dihembuskan adalah P3KT (Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu). Mendengar bunyinya rasanya menyenangkan. Terbayang fenomena yang sering terjadi : penggalian tepi jalan oleh PAM, kemudian ditimbun, lalu digali lagi oleh PLN, ditimbun kembali, lalu digali lagi oleh Telkom, terus ditimbun lagi. Kata-kata “terpadu” pada gagasan tersebut, menimbulkan dugaan akan hilangnya fenomena tersebut. Nyatanya ? Fenomena tersebut terus berjalan. Jangan-jangan gagasan tersebut mernang tidak bertujuan menerpadukan pelaksanaan proyek. Atau ada beda persepsi pada kata “terpadu” tersebut. Setelah P3KT ada P2KT (Program Pembangunan Kota Terpadu). Tapi inipun hanya sebatas wacana saja. Bahkan untuk pembangunan ibukota negara saja keterpaduan itu belum terasakan. Lihat saja pembangunan koridor busway yang dengan gencarnya memacetkan lalu-lintas, serta tidak “terpadu” dengan pembangunan underpass/flyover. Pada saat yang bersamaan pembangunan monorail juga dengan gencarnya dipacu. Bayangkan jika di satu ruas alan secara bersamaan ada proyek busway dan ada pula proyek monorail. Lalu bagaimana dengan jalan ora rampung-rampung (JORR), yang menyisakan monumen beton tak termanfaatkan. Rasanya keterpaduan tidak tercipta di sini.

Di awal Era Reformasi, gagasan lain yang juga sempat terdengar adalah penguatan ekonomi kerakyatan. Kalau dihitung-hitung sampai saat ini sudah berapa tahun sejak masa itu, koq kemampuan ekonomi rakyat masih juga belum terkuatkan ? Buktinya apa ? Ya adanya Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan raskin yang ramai diperebutkan itu. Terkait dengan hal ini pernah ada kata kunci “pengentasan kemiskinan”. Jangan-jangan bukan mengentas, tetapi malah “menetas”.

Pernah juga ada gagasan Gerakan Nasional Pengembangan Sejuta Rumah (GN-PSR), yang dideklarasikan Presiden Megawati pada tanggal 9 Oktober 2003 di Bali. Gagasan pembentukan gerakan ini adalah untuk mengajak seluruh pelaku pembangunan perumahan dan permukiman baik dari kalangan masyarakat, dunia usaha maupun pemerintah daerah untuk berperan aktif dalam mempercepat upaya pemenuhan kebutuhan perumahan yang layak huni khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Apakah gerakan ini masih bergulir, samar-samar terkadang terdengar juga, misalnya di lingkungan keproyekan perumahan di Pemda Jakarta. Daerah lain ? Dengan telah bergantinya presiden, diragukan apakah daerah lain juga berkenaan meneruskannya.

Berbagai gagasan dalam bentuk gerakan yang pernah (atau masih) ada antara lain : Gerakan Sejuta Pohon, Gerakan Nasional Open Source (GNOS), Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN-RHL), Gerakan Moral Nasional, Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air, Gerakan Nasional Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat, Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi, Gerakan Hemat Nasional, Gerakan Nasional Bersatulah Bangsaku, Gerakan Nasional Pemberdayaan BMT, Gerakan Nasional Peduli Anti Narkoba dan Tawuran (Gepenta), dan Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GN-OTA). Bahkan masih banyak lagi. Tidak percaya ? Coba saja masukkan kata kunci “gerakan nasional” ke dalam mesin pencari Yahoo atau Google. Anda akan mendapatkan jumlah yang menakjubkan. Bahkan untuk bentuk gerakan yang aneh-aneh, seperti : Gerakan Nasional Tidak Pilih Politisi Busuk, Gerakan Nasional Keberkahan Finansial untuk Atasi Kemiskinan dan Korupsi, bahkan ada pula Gerakan Nasional Toilet Bersih. Waduh, ternyata kreatif juga bangsa ini.

Berbagai gerakan ini tentunya memiliki tujuan yang “mulia”, seperti misalnya : memberikan rasa berani kepada masyarakat dan penegak hukum untuk berani mengungkapkan dan menangani kasus-kasus korupsi (Tim Kerja Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi PBNU), dan membebaskan Indonesia dari bahaya penyalahgunaan narkoba, tawuran serta anarkhis (Gepenta). Apakah tujuan “mulia” gagasan ini akan berhasil ? Yah, namanya juga usaha. Lumayan khan, masuk koran, TV dan internet.

Keterangan : Ditulis pada tanggal 26 September 2005.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s