Dilema Kepariwisataan Nias : Antara Kemasyhuran Global dan Kenyataan


Berbicara tentang selancar, kita tak akan dapat melewati Pantai Sorake dan Lagundri di Tano Niha. Kedua pantai ini sudah masyhur di mancanegara sebagai salah satu tempat yang memiliki gelombang terbaik di dunia bagi olahraga selancar. Bahkan, di waktu-waktu yang lalu, event selancar berskala internasional kerap diselenggarakan di sana. Hal ini menjadikan Nias sebagai salah satu daerah tujuan wisata andalan nasional. Namun mengapa kemasyhuran tersebut sekarang ini kelihatan meredup ? Apakah bencana alam yang terjadi di tahun 2004, 2005 dan 2006 yang lalu yang menjadi penyebabnya ?

Berbicara tentang kepariwisataan Nias, maka Pantai Sorake dan Lagundri akan menjadi titik perhatian utama. Namun, apakah hanya 2 objek ini saja yang menjadi andalan ? Di Nias terdapat juga objek lain yang menjadi andalan, antara lain Bawomataluo yang merupakan objek budaya, air panas Mbombo’aukhu, Pulau Bawa, dan Pulau Asu. Ini kalau berbicara mengenai objek wisata andalan yang telah dikembangkan. Kalau berbicara tentang objek wisata yang belum dikembangkan, ternyata Nias sangat kaya akan potensi, baik alam maupun budaya seperti : Pantai Fodo, Puncak Laowomaru, Gua Togindrawa, Air Terjun Onowaembo, Muara Indah, Pantai La’aya, Pantai Sifakiki, Danau Sowakholo di Desa Hiliganoita, Turegaloko, Pantai Lafau, Pantai Fo’a, Pantai Luaha Laraga, Pantai Humene Satua, Pantai Bozinoha, Pantai Nolimbu, Pulau Bawa, Pulau Asu, Kepulauan Hinako, Air Terjun Luaha Ndroi, Danau Megoto, Bahozaniri, Kara Sangadulo, Hilisimaetano, Botohilitano, Orahili Fau, Hiliamaeta Niha, Hilinawalo Fau, Hilimondegeraya, Lahusa Fau, Ono Hondro, Bawogosali, Siwalawa, Hilinawalomazingo, Tetegewo Tuhegeho, Hiligombu, Tundumbaho, Sifalago Susua, Lahusa Idano Tae, Orahili, Lahusa Satua, Desa Olayama, Soliga, Pacuan Kuda, P. Memong, P. Tello, Olodano, Sisarahiligoe, Lolozirugi, Lolozasai, Onolimbu, Sisobambowo, Siso Bandrao Onowaembo, Hilina’a, Tolamaera/Onowaembo Idanoi, Tumori, Sihare’o Saiwahili, Dahana, Madula, Tabaloho, Mazingo Tabaloho, Onozikho, Iranogeba, Helefanikha, Bawo Desolo, Lahemo, Holi, Sifaoroasi Uluhou, Maliwa’a, Hiliduho, Fadoro, Lauru, Batombawo, dan Hiliwaele. Masalahnya, ya itu tadi : belum dikembangkan. Jadi, jika berbicara tentang objek, maka perhatian akan terbatas pada : Pantai Sorake dan Lagundri, serta Bawomataluo.

Nias merupakan sebuah pulau yang mendapat 3 bencana alam, dalam waktu yang relatif berdekatan, yakni bencana Tsunami (26 Desember 2004) dan gempa bumi (28 Maret 2005 dan 13 Januari 2006). Adanya bencana alam ini telah meluluh-lantakkan sendi-sendi kehidupan di Nias. Saat ini, Nias tengah berupaya untuk bangkit kembali, terutama berkat bantuan internasional yang masih terus berjalan.

Secara umum, Pulau Nias memiliki sediaan sumber daya buatan yang minim. Inipun rusak akibat bencana alam di atas. Perbaikan tengah dilakukan, antara lain berupa ringroad menyusuri pantai Nias, dimulai dari pantai timur, bergerak ke utara dan selatan, untuk kemudian bertemu di pantai barat. Demikian juga dengan prasarana wilayah lainnya dan permukiman penduduk.

Dari sisi perekonomian daerah, secara umum Nias masih tergantung pada sektor pertanian. Walaupun terdapat sektor pariwisata, namun perkembangannya tidak merata ke segenap penjuru Nias. Dengan adanya kendala aksesibilitas ke pulau induk (Sumatera), perekonomian Nias menghadapi kesulitan untuk dapat maju dan berkembang. Artinya, perekonomian yang menyerap sebagian besar penduduk Nias (pertanian), hanya akan berkembang pada tingkat pemenuhan kebutuhan penduduk Nias sendiri. Akibatnya, peningkatan PAD akan sulit diciptakan.

Dari sisi SDM, kualitas SDM Nias masih memerlukan pembenahan, untuk dapat memiliki tingkat kompetensi yang dapat bersaing pada lingkup regional. Ini tidak terbatas pada masyarakat umum, tetapi juga aparat pemerintah, serta pengusaha/wiraswastawan.

Dalam lingkup Provinsi Sumatera Utara, Nias dapat dikatakan tidak merupakan prioritas, antara lain dalam hal : kebijakan pemerintah, tujuan berwisata, pilihan untuk berinvestasi. Hal ini disebabkan pencapaian ke Nias yang sulit, serta ditunjukkan oleh tingkat investasi yang (masih) rendah.

Dalam kondisi seperti inilah, kepariwisataan Nias terjepit. Pemerintah, baik pusat, provinsi, maupun kabupaten, tentu lebih memberikan perhatian kepada upaya rehabilitasi dan rekonstruksi, daripada upaya pengembangan pariwisata. Dari sisi pengembangan sektor, tentunya pengembangan sektor perhubungan, prasarana wilayah, perumahan rakyat dan pertanian lebih mendesak daripada pengembangan sektor pariwisata. Lantas bagaimana kepariwisataan Nias harus dikembangkan, di tengah-tengah kebutuhan pengembangan hal-hal lain yang lebih mendesak.

Pertama-tama, perlu disadari bahwa pengembangan pariwisata Nias harus dilakukan dengan rentang waktu yang sangat panjang. Kedua, pengembangan perlu dilakukan dengan membagi Nias, yakni Kepulauan Nias, menjadi sejumlah zona pengembangan. Dalam rentang waktu yang sangat panjang itulah ditentukan tahapan pengembangan tiap zona pengembangan. Rentang waktu yang sangat panjang tersebut selanjutnya dapat dipilah menjadi : jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.

Dalam jangka pendek, pengembangan pariwisata Nias dapat dilakukan dengan berkonsentrasi pada lokasi-lokasi yang kepariwisataannya sudah berkembang dan sudah memiliki nama di dunia internasional (Pantai Lagundri dan Pantai Sorake). Potensi pasar wisatawan mancanegara yang sudah terbentuk, hendaknya terus dipertahankan. Untuk menambah variasi produk wisata Pantai Lagundri dan Sorake, yakni guna memperpanjang lama tinggal wisatawan, dapat dilakukan pembenahan objek pendukung antara lain objek wisata Bawomataluo).

Pada saat yang bersamaan, dilakukan penguatan posisi Gunung Sitoli sebagai Pusat Kawasan Nias. Hal ini dilakukan melalui upaya pengembangan objek wisata yang masih berupa embrio (Pantai Charlita, dan objek wisata lain di sekitar Gunung Sitoli). Potensi ini dikembangkan dengan sasaran pasar : wisatawan nusantara lokal dan wisatawan nusantara remaja lokal Gunung Sitoli dan sekitarnya.

Penguatan Gunung Sitoli dilanjutkan ke wilayah sekitarnya, antara lain ke objek wisata Pantai Tuhemberua dan Mbomboau’khu, di samping objek wisata lainnya yang belum mempunyai reputasi di sekitar Gunung Sitoli. Pengembangan ini, dilakukan dengan memanfaatkan upaya rekonstruksi prasarana perhubungan darat, yang dalam jangka pendek bertitik berat di pesisir timur Pulau Nias.

Sejalan dengan pengembangan di atas, dilakukan pula pembinaan unsur-unsur pendukung pengembangan pariwisata, yakni : SDM, serta pengelolaan dan kelembagaan. Dengan kondisi kepariwisataan yang belum terlalu berkembang dan hanya berlokasi pada titik-titik tertentu saja, maka upaya pemasaran pariwisata belum dianjurkan pada jangka pendek ini.

Dalam jangka menengah, dengan mengikuti dan memanfaatkan upaya rekonstruksi prasarana perhubungan darat, pengembangan pariwisata dilanjutkan ke pantai barat Pulau Nias, yang memiliki potensi wisata sejenis (wisata selancar) dengan yang sudah dikenali di lingkup mancanegara pada lokasi lain, yakni Pantai Sirombu, Pantai Afulu, Pantai Alasa dan Pulau Hinako. Secara bertahap, hal ini dilakukan melalui pembenahan objek wisata Pantai Afulu diikuti dengan Pantai Sirombu dan P. Hinako. Ketiga tempat ini memiliki potensi gelombang yang sangat baik untuk selancar. Dengan kualitas ombak yang sangat baik untuk keperluan wisata selancar tersebut, maka lokasi-lokasi ini dapat dimanfaatkan untuk peselancar profesional, menggantikan Pantai Lagundri dan Sorake. Melanjutkan pengembangan wisata selancar tersebut, di Pantai Lahewa dilangsungkan pengembangan pantai, untuk wisata pantai. Selain itu, masih dalam rangka memperkuat daya tarik pantai barat Nias, dilakukan pengembangan wisata budaya di Lolofitu Moi. Diharapkan lokasi ini dapat dicapai dari Gunung Sitoli melalui jalan lintas tengah, jika pengembangan jalan ini sudah dilakukan. Untuk jangka panjang, dengan syarat kepariwisataan di Pulau Nias sudah berkembang dan stabil, pengembangan dapat diarahkan ke arah Kepulauan Batu di selatan Pulau Nias.

Pengembangan untuk jangka menengah dan jangka panjang ini tentunya belum dapat diperkirakan waktu pelaksanaannya, mengingat untuk pengembangan jangka pendek saja kepariwisataan Nias masih harus bersaing dengan sektor lain.

Keterangan : Ditulis pada tanggal 18 Februari 2007.

4 thoughts on “Dilema Kepariwisataan Nias : Antara Kemasyhuran Global dan Kenyataan

  1. Dear All,

    Keindahan dan prospek industri pariwisata pulau Nias sangat besar. Tetapi jika tidak dikembangkan atau jika salah pengembangan akan mengakibatkan keindahan dan prospek industri pariwisata pulau Nias akan terjadi penurunan nilai.

    Dibutuhkan pro aktif pemerintah daerah masing-masing kabupaten untuk membuat perencanaan dan program terpadu pembangunan dan pelestarian industri pariwisata pulau Nias yang berkarakteristik citra dan budaya daerah setempat karena dalam pengembangan industri pariwisata nasional dan international, dan dalam rangka memasuki globalitas-pasar bebas dunia maka persaingan sehat dan sebagai kekuatan masing-masing daerah dalam mempromosikan atau menjual keunggulan pariwisata adalah citra pariwisata yang bernuangsa budaya.

    Selamat menikmati keindahan atau panorama pariwisata pulau Nias

    Michael Y. Zalukhu

    1. Saat ini (2015) Kementerian Pariwisata sedang menyiapkan rencana pengembangan KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional) Teluk Dalam dan sekitarnya. Silahkan berpartisipasi untuk menggiatkan perkembangan pariwisata di Nias.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s