Tantangan Mewujudkan Pembangunan Kota Berkelanjutan


Pembangunan kota berkelanjutan ? Makhluk apa pula ini ? Bukankan seharusnya, dalam upaya pembangunan kota pada berbagai tingkatan, pertimbangan “berkelanjutan” sudah seharusnya built in di dalamnya, entah itu : arahan pengembangan kawasan lindung, amdal, RKL, RPL, dan sebagainya. Lalu mengapa hal ini masih harus dibicarakan ? Namun, jika kita lihat persoalan banjir yang melanda Jakarta, serta adanya berbagai bencana alam di sejumlah daerah di Indonesia, maka kita dapat menangkis keraguan tersebut dengan jawaban “mengapa tidak ?”

Sebenarnya, apa sih kota berkelanjutan itu ? Keberlanjutan (sustainability) secara umum berarti kemampuan untuk menjaga dan mempertahankan keseimbangan proses atau kondisi suatu sistem, yang terkait dengan sistem hayati dan binaan. Dalam konteks ekologi, keberlanjutan dipahami sebagai kemampuan ekosistem menjaga dan mempertahankan proses, fungsi, produktivitas, dan keanekaragaman ekologis pada masa mendatang.

Sejak tahun 1980an, berkembang gagasan mengenai format kehidupan berkelanjutan sebagai perwujudan kesadaran kolektif akan keterbatasan sumberdaya alam dan lingkungan menopang kehidupan manusia pada masa mendatang. Pada tahun 1989, World Commission on Environment dan Development (WCED) mempublikasikan Brundtland Report dalam dokumen Our Common Future mengenai pembangunan berkelanjutan yang selanjutnya dikenal dan diterima secara luas sebagai basis mengatur tata kehidupan dunia yang lebih berkelanjutan. Keberlanjutan (sustainability) didefinisikan sebagai “memenuhi kebutuhan pada masa kini tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi pada masa mendatang” (to meet the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs). Prinsip penting lainnya dari definisi Brundtland Commission adalah kepentingan mengintegrasikan tiga pilar ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam mencapai tujuan keberlanjutan.

Walaupun demikian, definisi Brundtland Commission secara universal masih diinterpretasikan secara beragam dengan berbagai makna. Yang paling mendasar adalah kenyataan bahwa sebagian mengartikan definisi Brundtland Commission sebagai proses dan sebagian lainnya sebagai tujuan dari suatu fakta atau nilai. Hal ini menjadi penting dalam menerapkan dan mengaplikasikan prinsip berkelanjutan bagi suatu kepentingan, dimana dibutuhkan suatu konteks dan tujuan yang jelas dan nyata.

Terkait dengan definisi keberlanjutan (sustainability) trersebut, kota berkelanjutan dapat dirumuskan sebagai tempat diwujudkannya saling kebergantungan antara pembangunan ekonomi, pembangunan sosial, dan pelestarian dan kelestarian lingkungan. Kualitas kehidupan yang baik, keberadaan ruang terbuka hijau, berkurangnya sampah, pencapaian yang mudah, tingkat kejahatan yang rendah, rasa kebersamaan komunitas, kualitas udara dan air yang bersih, dan keberagaman lingkungan, adalah beberapa dari keuntungan yang dapat dipetik.

Kota berkelanjutan adalah kota yang direncanakan dengan mempertimbangkan dampak lingkungan yang didukung oleh warga kota yang memiliki kepedulian dan tanggung-jawab dalam penghematan sumberdaya pangan, air, dan energi;  mengupayakan pemanfaatan sumberdaya alam terbarukan; dan mengurangi pencemaran terhadap lingkungan (http://74.6.239.67/search/cache?ei=UTF-8&p=%22city+designed+with+consideration%22&fr=my-myy&u=en.wikipedia.org/wiki/Sustainable_city&w=%22city+designed+with+consideration%22&d=T2eEhExISq_o&icp=1&.intl=us).

Konsep pembangunan kota berkelanjutan perlu mempertimbangkan peran ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan daya-dukung dan daya-tampung melalui upaya prevention, proses, minimisasi, substitusi, dan rekayasa lainnya serta keterkaitan dukungan dari wilayah lain. Oleh karena dimensi lingkungan tidak selalu berposisi sebagai variabel independen dalam menciptakan kualitas kehidupan kota, maka dimensi sosial menjadi penting dalam membangun arah keberlanjutan melalui proses social engineering dalam manifestasi peran serta masyarakat.

Keuntungan dari terwujudnya kota berkelanjutan adalah, kota akan mencadi lebih “sehat” dan layak huni bagi penghuninya. Kota berkelanjutan juga menyandang kemampuan untuk melindungi ekosistem hinterland di sekitarnya, tempat kota tersebut bergantung. Keuntungan terpentingnya adalah, pembangunan kota terlaksana dengan mengikuti rencana jangka panjang, yang tidak mengorbankan kebutuhan generasi mendatang.

Urban21 Conference (Berlin, July 2000) menyatakan bahwa pembangunan kota berkelanjutan adalah upaya meningkatkan kualitas kehidupan kota dan warganya tanpa menimbulkan beban bagi generasi yang akan datang akibat berkurangnya sumberdaya alam dan penurunan kualitas lingkungan.

Dalam konteks yang lebih spesifik, kota yang berkelanjutan (sustainable city)  diartikan sebagai kota yang direncanakan dengan mempertimbangkan dampak lingkungan yang didukung oleh warga kota yang memiliki kepedulian dan tanggung-jawab dalam penghematan sumberdaya pangan, air, dan energi;  mengupayakan pemanfaatan sumberdaya alam terbarukan; dan mengurangi pencemaran terhadap lingkungan (http://74.6.239.67/search/cache?ei=UTF-8&p=%22city+designed+with+consideration%22&fr=my-myy&u=en.wikipedia.org/wiki/Sustainable_city&w=%22city+designed+with+consideration%22&d=T2eEhExISq_o&icp=1&.intl=us).

Sesuai dengan karakteristik suatu kota, maka pembangunan kota berkelanjutan dapat diartikan sebagai upaya terus-menerus untuk meningkatkan kualitas kehidupan warga kota melalui peningkatan produktivitas di sektor sekunder dan tersier dan penyediaan prasarana dan sarana perkotaan yang layak dengan mempertimbangkan dampak invasi dan intensifikasi kawasan terbangun terhadap kerusakan lingkungan kota serta mensyaratkan keterlibatan yang tinggi dari warga kota terhadap upaya penghematan konsumsi sumberdaya alam dan pengendalian penurunan kualitas lingkungan.

Oleh karena kawasan perkotaan cenderung didominasi kawasan terbangun dan bukan merupakan kawasan pertanian dalam arti luas, maka secara implisit memiliki ketergantungan terhadap pasokan sumberdaya alam dari kawasan lainnya. Dengan demikian, pembangunan kota berkelanjutan relevan dengan pengertian upaya mengurangi ketergantungan terhadap pasokan sumber daya alam dari luar tersebut.

Konsepsi pembangunan kota berkelanjutan dilandaskan pada empat pilar utama, yakni dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang didukung oleh pilar governance. Upaya tersebut selain dibangun berdasarkan integrasi keempat pilar, juga secara terus-menerus diupayakan untuk menuju keseimbangan diantara keempat pilar pembangunan berkelanjutan tersebut. Keempat pilar dalam upaya pembangunan diposisikan sesuai dengan permasalahan keberlanjutan yang dihadapi secara nyata pada saat ini hingga masa yang akan datang menurut dinamika perkembangan dan perubahan yang terjadi.

  

Gambar 1 :  Pilar Pembangunan Kota Berkelanjutan

Munasinghe mengelaborasi elemen pokok ketiga pilar, yakni pilar ekonomi oleh elemen pertumbuhan, efisiensi, dan stabilitas; pilar sosial oleh elemen pemberdayaan, peranserta, dan kelembagaan; dan pilar lingkungan oleh elemen keanekaragaman, sumberdaya alam, dan pencemaran.

 

Gambar 2 :  Diagram Elemen Pokok Pembangunan Berkelanjutan

Forum SUD mengelaborasi ketiga pilar menurut elemen yang relatif setara dengan yang dikembangkan Munasinghe. Pilar ekonomi dielaborasi sebagai elemen penggunaan sumberdaya alam secara bijaksana, mendorong pemanfaatan ekonomi lokal, pengembangan nilai tambah ekonomi, dan pengutamaan sumber daya lokal dibanding impor. Pilar sosial dielaborasi menurut elemen jaminan kehidupan, pemerataan akses terhadap pelayanan dasar, demokrasi dan partisipasi, interaksi sosial yang positif, dan berkembangnya nilai (human values) bagi kehidupan yang berkualitas. Pilar lingkungan dielaborasi menurut elemen kuantitas dan kualitas sumber daya alam dan lingkungan dan keanekaragaman.

Dalam konteks kota dan perkotaan, maka pembangunan berkelanjutan pada hakekatnya memposisikan ketiga pilar untuk saling memperkuat (mutual reinforcing). Kota sebagai ekosistem binaan relatif tidak memiliki sumberdaya alam yang memadai untuk mendukung kehidupannya secara mandiri serta menghasilkan limbah yang lebih besar oleh konsentrasi penduduk dan aktivitasnya, sehingga threshold daya-dukung suportif dan daya-tampung asimilatif secara internal cenderung terlampaui oleh perkembangan dan pertumbuhan kota. Dengan demikian konsep pembangunan kota berkelanjutan perlu mempertimbangkan peran ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan daya-dukung dan daya-tampung melalui upaya prevention, proses, minimisasi, substitusi, dan rekayasa lainnya serta keterkaitan dukungan dari wilayah lain. Oleh karena dimensi lingkungan tidak selalu berposisi sebagai variabel independen dalam menciptakan kualitas kehidupan kota, maka dimensi sosial menjadi penting dalam membangun arah keberlanjutan melalui proses social engineering dalam manifestasi peran serta masyarakat.

Sebagai suatu proses, pembangunan kota berkelanjutan merepresentasikan progres perubahan secara bertahap yang berlangsung secara kontinyu (loop system) dengan arah menuju kualitas yang lebih baik berdasarkan feedback tahapan yang dilalui. Christopher A. Haines menyatakannya sebagai proses transformasi kota dengan benchmark yang mengindikasikan terjadinya perubahan, yakni konservasi sumberdaya alam, rehabilitasi untuk konservasi dan preservasi, menyediakan pelayanan transportasi publik, dan mengendalikan urban sprawl. Transformasi menuju pembangunan kota yang berkelanjutan oleh Forum SUD Indonesia diterjemahkan melalui benchmark yang lebih tegas perbedaannya. Jika pembangunan pada awalnya berorientasi secara penuh terhadap pertumbuhan ekonomi, maka pembangunan berkelanjutan mensyaratkan keberlanjutan ekologis, dimana pada daur selanjutnya diimbangi dengan keadilan sosial dan berikutnya dengan pelestarian budaya. Sebagai proses tranformasi yang kontinyu, maka daur pembangunan akan mengalami improvement terhadap nilai-nilai keberlanjutan secara terus-menerus. Walaupun nilai keberlanjutan secara ideal tidak dapat ditetapkan, namun esensi dari proses keberlanjutan adalah nilai-nilai penghargaan yang lebih baik terhadap peningkatan kualitas kehidupan ekonomi, sosial, dan lingkungan.

 Tabel 1 :  Transformasi Pembangunan Kota Berkelanjutan

 

Pendekatan keberlanjutan pembangunan perlu diposisikan menurut kontinum skala kepentingan yang berada pada rentang inkremental dan parsial hingga agregatif dan sistemik. Walaupun belum dapat dibuktikan bahwasanya keberlanjutan pembangunan suatu kota merupakan gabungan berbagai upaya pada skala lokal dan setempat atau sebaliknya merupakan upaya agregatif pada skala kota yang didistribusikan melalui sistem pengelolaan kepada satuan-satuan lokal, namun diyakini bahwa perwujudan pembangunan yang berkelanjutan dapat dan perlu diselenggarakan pada berbagai skala ruang dan waktu secara simultan. Interaksi dan transformasi di antara beragam skala ruang dan waktu pembangunan tersebut tidak selalu dapat dijelaskan dan dijamin akan terwujud, namun esensi dari keberlanjutan adalah mengupayakan dan mengeksplorasi solusi secara terus-menerus permasalahan pembangunan yang dihadapi oleh kota.

Dalam mewujudkan pembangunan kota yang berkelanjutan, prinsip yang mendasari adalah :

  1. terjaminnya pertumbuhan perekonomian yang stabil dan mantap dalam rangka menunjang perekonomian Nasional;
  2. terdukungnya peningkatan produktivitas dan kesejahteraan warga kota;
  3. terselenggaranya pelayanan publik yang lebih memadai dengan dukungan inovasi dan iptek;
  4. terjaminnya kualitas lingkungan yang mendukung warga meningkatkan produktivitasnya dan berkontribusi terhadap kepentingan yang lebih luas; serta
  5. terbangunnya pemerataan dan keadilan sosial bagi seluruh warga dalam meningkatkan kesejahteraan, mengakses pelayanan publik, dan berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan lestari.

Prinsip tersebut pada hakekatnya merupakan manifestasi pembangunan berkelanjutan yang bergerak sebagai kontinuitas menurut fungsi ruang dan waktu, dimana :

  1. Permasalahan keberlanjutan bersifat dinamis yang merepresentasikan kontinuum antara konstelasi internal hingga eksternal
  2. Keberlanjutan merepresentasikan hubungan antara kebutuhan (needs) dengan keterbatasan (limitation) dalam konstelasi pemanfaatan pengetahuan dan teknologi serta kapasitas sosial yang lebih seimbang
  3. Keberlanjutan merupakan kontinuum antara waktu lampau, kini, dan masa mendatang
  4. Keberlanjutan merupakan kontinuum antara permasalahan berskala setempat, lokal, kelompok, hingga skala kota dan yang lebih luas
  5. Keberlanjutan merupakan kontinuum antara permasalahan bersifat parsial dan inkremental hingga agregatif dan sistemik
  6. Keberlanjutan merupakan kontinuum proses menuju keseimbangan antar pilar pembangunan

Dalam berproses menurut fungsi ruang dan waktu pembangunan senantiasa diupayakan menuju keseimbangan (balance) antar pilar agar terbangun sinergi yang semakin lama menjadi semakin kuat. Sebagai wilayah dan lingkungan perkotaan, Jakarta dicirikan oleh karakteristik fisik yang cenderung non-alami, intensitas aktivitas yang tinggi, dan kepentingan keterlibatan warga yang intensif dalam membangun dan mewujudkan kinerja kota secara menyeluruh. Kinerja kota pada saat kini merupakan perwujudan proses dan dinamika yang berlangsung sejak waktu lampau menuju kepentingan waktu mendatang. Kinerja secara agregatif dapat terbangun secara sistemik maupun merupakan kumpulan berbagai dan beragam proses yang lebih parsial dan spesifik.

 

Gambar 3 : Spektrum Dimensi Ruang Pembangunan Berkelanjutan

 

Gambar 4 : Spektrum Dimensi Waktu Pembangunan Berkelanjutan

Dalam spektrum di atas, maka pembangunan kota akan berkelanjutan apabila berlangsung dalam perspektif waktu yang sangat panjang dengan interaksi kepentingan antar skala ruang yang intensif.

Untuk mewujudkan yang berkelanjutan perlu mempertimbangkan kondisi, karakteristik, permasalahan, dan tantangan yang dihadapi kota kini dan pada masa mendatang. Dengan mengartikan bahwasanya pembangunan berkelanjutan merupakan upaya terus-menerus yang merupakan bagian dari proses menuju kualitas kehidupan generasi kini dan mendatang yang lebih baik secara ekonomi dan sosial dalam batas daya-dukung suportif sumberdaya alam dan daya-tampung asimilatif lingkungan, maka definisi pembangunan berkelanjutan bagi adalah proses pembangunan yang mendukung peningkatan produktivitas dan kualitas kehidupan kota dan warga kota melalui peningkatan daya-dukung dan daya-tampung sumberdaya alam dan binaan kota yang ditunjang oleh peranserta warga kota dan tanggungjawab kompensasi bagi dukungan jasa ekologis dari wilayah lainnya.

Untuk mewujudkan pembangunan kota menuju proses yang lebih berkelanjutan, maka disiapkan berbagai prakarsa untuk memandu arah yang dituju. Pada hakekatnya, prakarsa menuju keberlanjutan pembangunan akan bersifat komprehensif, sejak perencanaan, implementasi, hingga pengendalian pada berbagai skala mulai prakarsa dan tindak pembangunan berskala makro hingga aktivitas individual.

Prakarsa pertama, pembangunan kota yang berkelanjutan dapat diwujudkan melalui inisiatif berbagai pihak yang pada jangka panjang berorientasi menghimpun kapasitas secara sinergis dalam keragaman kepentingan. Pada skala agregatif kepentingan kota (city wide), maka peran pemerintah kota menjadi sentral. Kepentingan tersebut dapat namun tidak selalu terbangun secara simultan oleh sekumpulan dan himpunan inisiatif lokal dan parsial. Inisiatif lokal dan parsial dapat melangsungkan dan menyelenggarakan kepentingannya secara khusus dan spesifik tanpa terkait dengan kepentingan yang lebih luas dari kelompok atau komunitasnya, yang akan menghasilkan kinerja inkremental yang berdaya guna dan berhasil guna setempat.

Prakarsa kedua, strategi pembangunan kota berkelanjutan meliputi aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial. Strategi pembangunan tersebut tidak selalu bersifat komplementer secara sempurna, oleh karena pembangunan kota membutuhkan prioritas sesuai dengan kepentingan kota dan warga kotanya. Oleh karenanya, implikasi penerapan berbagai strategi berikut tidak dapat dihindari kemungkinan menimbulkan tradeoff antara salah satu aspek terhadap aspek lainnya. Kemungkinan tersebut dapat diindikasikan oleh kinerja ruang kota, dimana prioritasi terhadap aspek ekonomi akan memberikan dampak terhadap keberlanjutan aspek lingkungan dan sosial, demikian pula sebaliknya. 

Keterangan : Ditulis pada tanggal 24 September 2011.

Sumber :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s