Tantangan Penataan Kawasan Pasar Minggu


Perkembangan kota Jakarta yang berfungsi sebagai ibu kota Negara Republik Indonesia yang arah kebijakan pembangunan kotanya ke arah pembentukan Jakarta sebagai kota jasa dengan skala nasional dan internasional. Pengembangan pusat-pusat kegiatan kota merupakan langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mencapai arah pembangunan kota.

 

Gambar 1

Salah satu pusat kegiatan ekonomi yang cukup strategis untuk dilakukan pengembangan yang sesuai dengan strategi dan rencana pemerintah kota DKI Jakarta adalah Kawasan Pasar Minggu, yang merupakan pusat kegiatan perdagangan dan komersil. Pasar Minggu merupakan salah satu pasar tradisional terbesar di Jakarta Selatan dengan daya tarik tinggi. Pada kondisi saat ini degradasi daya tarik kawasan menurun drastis karena ketidakteraturan dalam banyak aspek.

Ketidakteraturan pada kawasan Pasar Minggu akan semakin berkembang jika tidak dikendalikan dan di tata kembali. Aspek-aspek seperti ketidakteraturan pedagang kaki lima, sirkulasi kendaraan umum, harmonisasi fasade bangunan, merupakan beberapa yang paling dominan pada kawasan. Ketidakteraturan ini harus disikapi secara terintegrasi agar kawasan dapat berkembang tetapi tetap dapat mewadahi kebutuhan semua stakeholder yang terdapat di kawasan.

Kawasan Pasar Minggu berada di Kecamatan Pasar Minggu, salah satu kecamatan wilayah Kota Administrasi Jakarta Selatan. Di dalam area perencanaan ini terdapat tiga pusat aktivitas yaitu Pasar Minggu, Terminal Bus Pasar Minggu dan Stasiun Pasar Minggu.

 

Gambar 2 : Bangunan Ruko.

Gambar 3 : Robinson di depan Stasiun Kereta Api Pasar Minggu.

Gambar 4 : Teater Lingga Indah.

Gambar 5 : Kondisi di Dalam Pasar Minggu.

Gambar 6 : Terminal Bis Pasar Minggu.

 Mayoritas aktivitas berorientasi di sepanjang jalur arteri di mana peruntukan lahannya terdiri dari beberapa fungsi, di antaranya: fungsi komersial, perkantoran dan fasilitas umum/sosial. Terdapat pula pemukiman kelas menengah di daerah belakang Pasar Minggu dan permukiman kelas menengah atas di sepanjang Jl. Pejaten Mas Raya. Pemanfaatan lahan yang ada di kawasan perencanaan pada saat ini adalah pemanfaatan untuk lahan campuran di mana sebagian besar peruntukan lahannya digunakan untuk fungsi komersial.

 

Gambar 7 : Bangunan Komersil di belakang Pasar Minggu.

 

Gambar 8 : Lokasi Binaan Usaha Kecil Pasar Minggu.

 

Gambar 9 : Bangunan Komersil atau Ruko di belakng Terminal.

Sebagian besar pusat aktivitas publik di bidang komersial dan fasilitas umum atau sosial, terdapat di sekitar daerah Pasar Minggu, di sepanjang Jalan Raya Pasar Minggu, di sepanjang Jalan Ragunan, di daerah Terminal Bus Pasar minggu dan Stasiun Kereta Api Pasar Minggu.

 

Gambar 10 : Pemukiman Penduduk di Dekat Terminal.

Bangunan di dalam kawasan perencanaan ini tergolong bangunan bertingkat rendah (Low Rise Building), sekitar 1-8 lantai. Penataan bangunan, baik berupa pertokoan, perkantoran, fasilitas umum atau sosial dan lain sebagainya terlihat tidak teratur. Terdapat pemukiman yang cenderung padat dan tidak teratur di daerah dekat jalur arteri.

 

Gambar 11 : Bangunan Ruko Sekaligus Rumah.

 

Gambar 12 : Stasiun Pasar Minggu.

 

Gambar 13 : Perkampungan di Dekat Stasiun KA.

 

Gambar 14 : Sirkulasi Kendaraan

Sistem sirkulasi kendaraan di dalam kawasan ini masih tidak teratur, dan masih terdapat titik-titik kemacetan, seperti di pertigaan Jalan Raya Pasar Minggu dan Jalan Ragunan. Hal tersebut diakibatkan oleh sirkulasi kendaraan umum yang menyatu dengan sirkulasi kendaraan lainnya (seperti, kendaraan pribadi dan motor) serta pemanfaatan badan jalan sebagai area parkir kendaraan maupun area dagang bagi pedagang kaki lima (non permanen).

 

Gambar 15 : Situasi Kemacetan dan Parkir Kendaraan

Lahan Parkir yang disediakan di daerah Pasar Minggu belum dapat menampung kendaraan, sehingga banyak kendaraan yang parkir di badan jalan bahkan di atas trotoar.

 

Gambar 16 : Ruang Terbuka dan Vegetasi

Ruang Terbuka dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di dalam kawasan perencanaan ini sudah keberadaannya, seperti taman di antara jalur pejalan kaki (pedestrian way) dan badan jalan di Jalan Raya Pasar Minggu. Selain itu, terdapat juga RTH di dalam Terminal Bus Pasar Minggu. Vegetasi yang digunakan adalah jenis taman peneduh dan tanaman pagar di trotoar.

 

Gambar 17 : Jalur Pejalan Kaki (Pedestrian)

Sirkulasi pedestrian sudah tersedia pada kawasan Pembangunan Pasar Minggu ini, tetapi masih jarang digunakan oleh pejalan kaki. Terutama pada trotoar di depan Stasiun Kereta Api Pasar Minggu tidak berfungsi secara maksimal. Trotoar digunakan untuk berjualan dan untuk menyimpan gerobak oleh pedagang kaki lima. Faktor keamanan dan kenyamanan dirasakan sangat kurang jika memasuki kawasan tersebut.

 

Gambar 18 : Pedagang Kaki Lima

Sebagian besar aktivitas yang dilakukan di dalam kawasan ini terdapat di Pasar Minggu dan di sepanjang Jalan Raya Pasar Minggu dan Jalan Ragunan terutama di sekitar pasar dan stasiun. Di Pasar Minggu terdapat Robinson dan pasar tradisional yang terdiri dari beberapa toko yang menjual berbagai macam barang, seperti: elektronik, emas, baju, karpet, seprai, mainan anak, danl makanan.

Keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) masih padat dan tidak teratur di dalam kawasan ini, bahkan mengambil jalur pejalan kaki (pedestrian way). Oleh karena itu, ini berakibat pada pengurangan lebar jalur sirkulasi kendaraan. Di sepanjang Jalan Raya Pasar Minggu dan Jalan Ragunan terdapat banyak penjual dengan berbagai jenis barang dagangannya, contohnya: sayuran, makanan, sepatu, telepon genggam, pulsa telepon genggam, juga terdapat jasa potong rambut, bengkel, wartel dan pangkalan ojek.

  

Gambar 19 : Infrastruktur Jalan

Kawasan Pasar Minggu ini dilewati oleh Jalur Arteri Primer, yaitu Jalan Raya Pasar Minggu (dilengkapi dengan underpass) serta dua jalur Arteri Sekunder, yaitu Jalan Ragunan dan Jalan Pejaten Raya. Jalan-jalan ini menjadi pembatas bagi kawasan Pasar Minggu ini, dan banyak terjadi pusat kegiatan yang tinggi di daerah jalan-jalan tersebut, terutama di Jalan Raya Pasar Minggu dan Jalan Ragunan Raya.

 

Gambar 20 : Jembatan Penyeberangan

Jembatan penyebrangan sudah tersedia di depan Stasiun Kereta Api Pasar Minggu yang memudahkan pejalan kaki untuk menyebrang Jalan Pasar Minggu Raya menuju ke depan Pasar Minggu. Tetapi, kondisi jembatan sangat mengkhawatirkan. Konstruksi jembatan tersebut telah rusak, khususnya pada bagian tangga.

 

Gambar 21 : Jalur Sungai

Jalur sungai yang melewati Kawasan Pembangunan Terpadu Pasar Minggu ini melintasi daerah dalam pasar dan terminal, tetapi airnya tidak mengalir dan sangat kotor. Lebar jalur sungai tersebut kira-kira 3 meter, dengan kedalaman 1,5 meter.

  

 

Gambar 22 : Tempat Pembuangan Sampah

Di dalam Kawasan Pembangunan Terpadu Pasar Minggu ini terdapat 2 lokasi pembuangan sampah, yaitu di Jalan Raya Pasar Minggu dan di belakang Terminal Bus Pasar Minggu. Tetapi, dampak dari lokasi pembuangan sampah tersebut mengakibatkan daerah lingkungan sekitar

 

Gambar 23 : Listrik, Penerangan dan Telepon Umum

Di dalam Kawasan Pembangunan Terpadu Pasar Minggu ini terdapat beberapa fasilitas umum, seperti: telepon umum, lampu jalan, dan listrik.

Koridor Jl. Pasar Minggu Raya dengan dominasi fungsi komersial memberikan pengaruh besar secara fungsi bagi kawasan. Koridor jalan yang berawal dari Tugu Pancoran hingga Jl. T.B.Simatupang menjadikan kawasan Pasar Minggu ini sebagai titik simpul penting koridor. Dengan demikian kawasan akan direncanakan dengan beragam fungsi sebagai titik pusat Koridor.

Selain itu keberaaan beberapa kawasan hunian di sekitar kawasan seperti Pejaten dan Duren Tiga menjadi pendukung bagi pengembangan kawasan. Keberadaan hunian tersebut dapat memberikan bangkitan pengunjung bagi kawasan. Karakter kawasan yang kuat sebagai kawasan perdagangan akan menjadi nilai tambah dan daya tarik tersendiri.

Pada kondisi eksisting kawasan, moda transportasi kawasan terdiri dari moda angkutan kota kecil (Mikrolet, KWK) dan bus kecil (Metromini, Kopaja). Keberadaan moda angkutan ini memiliki dampak yang kurang baik bagi kawasan. Kurang tertibnya moda-moda tersebut menjadikan sirkulasi kawasan macet. Kemacetan ini memberikan hambatan dan ketidaknyamanan bagi kawasan secara fungsi.

Kawasan memiliki titik simpul transportasi berupa terminal dan stasiun. Titik simpul ini memegang peranan penting bagi kawasan. Vitalitas kawasan tinggi dikarenakan keberadaan titik simpul sebagai titik awal dan pemberhentian trayek kota dari beberapa wilayah lainnya. Tetapi dilain sisi letak terminal yang kurang strategis menjadikan fungsi terminal tidak dapat berperan secara optimal.

Sirkulasi kendaraan pada kawasan terdiri dari beberapa kelas jalan, yaitu : arteri (Jl. Pasar Minggu Raya), kolektor (JL. Ragunan Raya) dan lingkungan. Pola sirkulasi yang terdapat pada kondisi yang ada dapat dikatakan linier untuk jalan arteri dan kolektor, sementara untuk jalan lingkungan polanya masih belum teratur. Jalan lingkungan yang terdapat pada kawasan tidak terintegrasi satu dengan lainnya.

Sirkulasi kendaraan kawasan memiliki besaran yang beragam untuk jalan arteri (Jl. Pasar Minggu Raya) memiliki lebar 16 m dan 30 m pada bagian underpass, lebar jalan kolektor (Jl. Ragunan Raya) adalah 13 m, dan untuk lebar jalan lingkungan berkisar antara 8-4 m. Setiap sirkulasi yang terdapat di kawasan memiliki 2 lajur dua arah berlawanan.

Besaran jalan artei yang terdapat pada kawasan belum berfungsi dengan baik. Belum optimalnya diakibatkan beban jumlah kendaraan lewat setiap waktu. Banyaknya kendaraan ini terjadi karena jalan ini merupakan salah satu jalan utama yang menghubungkan Jakarta dan Depok. Keadaan ini juga diperburuk dengan banyaknya kendaraan umum yang berhenti tidak didalam terminal dan parkir on street pada koridor jalan.

Sirkulasi jalur pedestrian pada kawasan ini terdiri dari dua tipologi, antara lain jalur pedestrian sebagai pendamping infrastruktur jalan kawasan dan sebagai jalur utama pergerakan pejalan kaki dalam kawasan. Kedua bentuk ini terdapat di dua titik yang berbeda. Untuk yang berfungsi sebagai pendamping infrastruktur terdapat berdampingan dengan jalan arteri dan kolektor sementara fungsi lainnya terletak didalam kawasan.

Jalur pedestrian yang berdampingan dengan jalan pada umumnya memiliki lebar antara 1-3 m. Jalur pedestrian ini memiliki tingkat kenyamanan yang rendah karena adanya faktor polusi udara dan suara. Sementara untuk jalur pedestrian dengan fungsi pergerakan pejalan kaki didalam kawasan terbentuk akibat tata massa bangunan yang tidak terencana dengan baik, sehingga tidak dapat memberikan kenyamanan yang memadai bagi penggunanya. Penduduk kawasan yang dominan kalangan bawah menjadikan jakur pedestrian sebagai jalur pergerakan utama kawasan ini. Dikarenakan jalur pedestrian yang memiliki lebar antara 1-2.5 m, pergerakan sirkulasi pedestrian menjadi kurang nyaman dan tidak dapat memadai kebutuhan sosial masyarakat.

Permasalahan utama sirkulasi pedestrian pada kawasan antara lain: sirkulasi pedestrian tidak memiliki orientasi yang jelas karena terbentuk akibat tata massa hunian yang tidak teratur, tidak memiliki tingkat kenyaman yang baik secara visual dan thermal karena kurangnya penghijauan, tidak memliki pengalaman ruang yang baik, dan tidak tmemiliki pencapaian yang baik sehingga area hunian didalam kawasan terisolasi.

Ruang terbuka pada kawasan merupakan ruang yang terbentuk akibat kumpulan bangunan. Dengan demikian kualitas ruang terbuka yang terdapat masih sangat rendah secara visual dan fungsi. Keberadaan ruang terbuka ini tidak memiliki tujuan dan fungsi yang terdefinisi dengan baik. Pada kondisi saat ini banyak sekali ruang terbuka yang hanya merupakan ruang sisa kawasan sehingga hanya menjadi ruang marjinal yang tidak dapat difungsikan.

Dominasi ruang marjinal ini mengakibatkan kualitas kawasan menurun. Wadah aktifitas sosial kawasan tidak dapat ditampung pada ruang terbuka yang ada. Keadaan ini mengakibatkan ruang luar kawasan menjadi tidak hidup karena semua kegiatan sosial dilakukan pada bangunan.

Kualitas kenyamanan dalam kawasan juga sangat buruk. Adanya polusi udara, dan suara masih sangat tinggi dalam kawasan. Polusi ini diakibatkan oleh adanya kemacetan dan kurangnya vegetasi pada ruang-ruang terbuka kota. Banyaknya kendaraan baik umum maupun pribadi yang melewati kawasan kurang didukung dengan keberadaan jalur hijau yang memadai. Keadaan jalur hijau sebagai peneduh dan buffer bagi bagian dalam kawasan masih sangat minim. kurangnya vegetasi menjadikan kenyamanan thermal dan suara rendah.

Konfigurasi fisik bangunan kondisi eksisting memiliki keragaman yang tidak harmonis. Secara fisik bangunan didominasi oleh bangunan semi permanen untuk hunian tidak teratur, sementara bagian tengah kawasan yang berbatasan dengan koridor Jalan Pasar Minggu dan Ragunan raya terdapat beberapa bangunan permanen tingkat menengah dengan lantai lebih dari 3 lantai dengan fungsi perdaganan dan komersial.

Orientasi kawasan pada keadaan eksisiting tidak dapat terdefinisi dengan baik karena tata bangunan yang tidak teratur pada fungsi hunian kumuh kawasan, sementara jika dilihat dari elemen-elemen kawasan, terdapat beberapa potensi yang baik dalam orientasi kawasan yaitu bangunan landmark (Pasar minggu), dan koridor utama Pasar Minggu. Kedua elemen itu dapat dimanfaatkan dengan mengarahkan semua orientasi kearah keduanya.

Kawasan Pasar Minggu merupakan kawasan dengan tingkat ekonomi tinggi dan dikelilingi oleh hunian. Fungsi dominan sebagai kawasan perdagangan memberikan peluang pada banyak sekali aktifitas pendukung bagi kawasan. Pedagang kaki lima yang ada pada kondisi eksisting merupakan aktifitas pendukung kawasan yang menonjol.

Keberadaan pedagang kaki lima masih belum berfungsi optimal. Keadaan ini diakibatkan oleh tidak tertata secara letak. Peranan pedagang kaki lima sebagai aktifitas pendukung berbalik menjadi aktifitas yang mengganggu fungsi infrastruktur pada kawasan.

Permasalahan yang timbul akibat pedagang kakli lima ini adalah terjadinya kemacetan dalam kawasan. Selain kemacetan, penurunan kualitas visual pada kawasan secara signifikan menjadikan citra kawasan tidak baik secara visual. Keadaan ini menjadikan peran kawasan tidak berjalan optimal.

Kawasan Pasar Minggu merupakan kawasan yang terletak di pusat kota. Kawasam ini sudah teraliri oleh listrik dan air bersih dengan baik dan sesuai kebutuhan kawasan. Listrik dan air bersih pada kawasan sudah terdistribusi dengan baik keseluruh bagian kawasan.

Saluran drainase kota yang merupakan tempat retensi air terdapat pada bagian tengah kawasan berdampingan dengan jalan utama koridor Pasar Minggu. Kondisi drainase pada saat ini memiliki tingkat higienis yang rendah. Tumpukan sampah menjadi masalah utama pada saluran drainase. Banyaknya sampah yang memenuhi drainase memberikan dampak buruk bagi kawasan secara visual dan kenyamanan.

Tempat pembuangan sampah sementara terletak pada bagian belakang terminal dalam kawasan. Keberadaannya sangat membantu dalam penampungan sampah sebelum didistribusi ke tempat pembuangan sampah akhir. Titik letak tempat pembuangan sementara menimbulkan beberapa dampak buruk bagi fungsi komersial dan citra visual kawasan. Letak yang berdampingan dengan terminal dan pasar ini mudah dilihat sehingga menggangu kenyamanan beraktifitas dan berinteraksi kawasan.

Permasalahan utama yang terdapat pada kawasan eksisting, seperti tidak terintegrasinya kawasan ini dengan kawasan yang berada disekitarnya. Keadaan ini mengakibatkan kawasan tidak dapat berkembang.

Kondisi fisik kawasan yang tidak teratur memberikan citra yang buruk bagi kawasan. Oleh sebab itu pembentukan karakter utama kawasan harus dapat memaksimalkan karakter kuat Pasar Minggu yang telah lama ada. Degradasi kualitas visual dan estetika serta kenyamanan yang terjadi di Pasar Minggu harus diperbaiki dan diremajakan supaya kualitas citra menjadi tinggi kembali.

 Jika dilihat dari elemen kota, terdapat beberapa permasalahan utama yang harus dipecahkan dengan solusi desain yang baik, seperti pada tata guna lahan yang tidak sesuai dengan rencana pemerintah, serta dominasi fungsi hunian pada kawasan dengan massa tidak teratur yang menjadikan nilai kawasan rendah. Fungsi hunian tidak teratur ini juga merupakan masalah utama dari tata bangunan yang terdapat pada kondisi eksisting. Keadaan ini mengarahkan skenario pengembangan kawasan terhadap pembentukan kawasan dengan fungsi campuran dengan orientasi pengembangan intensitas lebih kearah vertikal. Fungsi-fungsi yang terdapat didalam kawasan disesuaikan dengan rencana pemerintah dan pertimbangan analisa kompetitor dan analisa properti yang telah dilakukan.

Permasalahan utama sirkulasi kendaraan ataupun pedestrian adalah sistem sirkulasi yang tidak terintegrasi dengan kawasan sekitar. Dengan demikian skenario pengembangan kawasan lebih mengarah ke pembentukan kawasan penghubung atau transisi, sehingga pengembangan jalur sirkulasi kendaraan dan pedestrian direncanakan dengan akses yang lebih banyak kearah kawasan agar permeabilitas kawasan meningkat. Keberadaan terminal dan stasiun yang terdapat di kawasan harus ditingkatkan kembali peranannya dengan mengintegrasikan kedua fungsi tersebut dengan fungsi perdagangan kawasan secara langsung. Pembentukan kawasan TOD dengan menjadikan kedua titik simpul transportasi sebagai pusat kawaswan yang mudah dicapai dengan berjalan kaki.

Pada ruang terbuka hijau terdapat permasalahan utama yaitu tidak memadainya ruang terbuka aktif sehingga aktifitas masyarakat tidak dapat di akomodasi dalam kawasan. Keadaan ini menjadikan kawasan tidak memiliki kehidupan ruang luar yang memadai, padahal dengan kehidupan sosial yang intensif pada keadaan eksisting pembentukan ruang terbuka hijau kota sangat berpotensi untuk lebih menghidupi kawasan. Selain itu pembentukan ruang terbuka hijau ini juga di lakukan sebagai pendukung ekologi kawasan.

KONSEP PENGEMBANGAN KAWASAN

Konsep Fungsi Campuran

Konsep umum dari kawasan Pasar minggu ini merupakan kawasan TOD. Konsep TOD akan mengintegrasikan titik-titik simpul transportasi kawasan seperti terminal dan stasiun dengan fungsi lainnya. Konsep ini akan mengarahkan semua orientasi kawasan ke kedua titik simpul transportasi tersebut.

Pada kondisi eksisting keadaan fungsi hunian yang terdapat didalam kawasan tidak memberikan dampak lingkungan yang baik. Fungsi hunian yang tidak tertata pada sebagian besar kawasan akan ditata kembali untuk dapat memberikan nilai kawasan yang tinggi. Efisiensi lahan dengan vertikalisasi fungsi hunian diharapkan dapat memberikan ruang untuk dapat memasukkan fungsi baru yang lebih efektif dalam pembentukan karakter kawasan yang baru.

Intensitas setiap fungsi yang terdapat pada kawasan direncanakan secara optimal dengan pengambangan vertikal. Optimalisasi intensitas ini diharapkan dapat meningkatkan vitalitas kawasan. Penambahan densitas kawasan juga akan menjadikan kawasan berkembang karena menjadi kawasan destinasi bagi pengguna kawasan yang menghuni kawasan.

 

Gambar 24 : Konsep Fungsi Campuran

Konsep Linkage Kawasan

Titik simpul transportasi menjadi sangat penting untuk kawasan dengan konsep TOD. Keberadaan fungsi perdagangan sebagai fungsi dengan karakter kuat diharapkan tetap dapat mendukung berkembangnya konsep TOD dengan baik. Integrasi fungsi simpul transportasi dan perdagangan secara langsung harus dilakukan supaya kedua fungsi tersebut dapat saling melengkapi dan dapat berperan secara optimal.

Pengembangan kawasan dengan konsep TOD harus memiliki komposisi fungsi lahan yang dapat mengarahkan aktifitas kearah pusat kawasan. Fungsi yang akan direncanakan akan dapat memberikan linkage aktifitas yang terintegrasi dari satu titik ke titik lainnya di kawasan dengan berjalan kaki.

Pembentukan keterhubungan aktifitas dengan penataan fungsi yang terkait secara aktifitas harus direncanakan secara terintegrasi. Fungsi-fungsi yang memiliki keterkaitan aktifitas harus dihubungkan secara gradasi supaya aktifitas dalam kawasan tidak terfragmen. 

Titik simpul transportasi akan menjadi pusat kawasan yang berdampingan dengan fungsi perdagangan sebagai karakter utama kawasan. Kedua fungsi tersebut menjadi orientasi kawasan dengan aksesibilitas pejalan kaki yang mudah. Titik pusat kawasan akan memiliki peranan besar dalam pembentukan kawasan TOD secara keseluruhan.

Pembentukan linkage fungsi dilakukan dengan menata fungsi dengan sifat publik sebagai focal point dan arah orientasi kawasan. Fungsi publik ini akan menjadi fungsi yang paling mudah dijangkau dari titik simpul transportasi. Sementara untuk fungsi privat memiliki tata letak berada di area belakang kawasan sebagai area tujuan akhir pada kawasan. Fungsi dengan sifat privat harus memiliki kemudahan akses menuju pusat kawasan dengan didampingi oleh gradasi fungsi dari publik ke privat agar linkage fungsi dapat berperan optimal.

 

Gambar 25 : Konsep Axis dan Perspektif

Prinsip axis and perspective untuk memberikan aksentuasi yang kuat pada kawasan serta memberikan kejelasan terhadap orientasi-orientasi kawasan terhadap potensi fisik ataupun bangunan-bangunan tengaran sehingga dapat meningkatkan kualitas estetika kawasan secara keseluruhan. Konsep ini akan memperkuat visi kawasan dengan ”Orientasi sebagai daya tarik estetika kawasan”.

Pengembangan sumbu-sumbu sirkulasi akibat axis and perspective akan menghasilkan kawasan yang memiliki orientasi yang mengarah ke sungai sebagai daya tarik tersendiri dari kawasan, sementara itu orintasi aksis juga mengarah ke bangunan tengaran yang menjadi acuan dalam kawasan.

Aksis serta sumbu sirkulasi kawasan secara tidak langsung akan membentuk kumpulan tata massa yang memiliki orientasi terhadap ruang terbuka kawasan sehingga pola konfigurasi tata massa kawasan akan memiliki pola grid dengan orientasi terpusat terhadap ruang terbuka sebagai pengikat.

Pembauran indoor dan outdoor ini diharapkan dapat memperluas ruang publik kawasan yaitu dengan menyatukan sebagian ruang dalam bangunan sebagai ruang publik dengan desain yang disesuaikan dengan konteks lingkungan dan fungsi yang terdapat disekitarnya. Menyatunya ruang dalam dan ruang luar menjadikan ruang terbuka hijau kawasan dapat memiliki kesan yang menerus dan luas. Dengan tipologi bangunan yang memiliki karakter transparan akan memudahkan permeabilitas ruang luar ke dalam bangunan. Pembauran ruang luar dan dalam pada kawasan ini terjadi pada lantai dasar bangunan pada beberapa bagian khusus kawasan agar tetap dapat memberikan hak privat pada beberapa bangunan.     

Pembauran ruang dalam dan luar yang terjadi pada umumnya terdapat pada sirkulasi pedestrian utama agar dapat memberikan karakteristik yang berbeda dengan jalur pedestrian pendukung pada kawasan. Pembauran ini juga memiliki tujuan untuk memberikan pengalaman ruang yang variatif dengan masuknya ruang dalam lantai dasar bangunan sebagai ruang publik, sehingga integrasi fungsi dengan elemen kota menjadi satu kesatuan baik. Pembauran ini akan memberikan daya tarik tersendiri bagi sirkulasi pedestrian kawasan. 

Jembatan penghubung yang terintegrasi antar bangunan akan memberikan keterhubungan langsung baik aktifitas ataupun visual. Selain keterhubungan aktifitas dan visual yang menerus, jembatan penghubung ini juga meningkatkan pergerakan pejalan kaki dari bangunan satu ke bangunan lainnya. Keterhubungan antar bangunan ini terletak pada bagian podum lantai 2 dengan fungsi komersial retail sebagai fungsi yang menerus pada jembatan penghubung.

Gambar 26 : Konsep Sirkulasi kawasan

Konsep Kawasan Berorientasi Manusia

Pengembangan kawasan Pasar Minggu memiliki konsep sebagai kawasan yang berorientasi terhadap manusia. Konsep ini digunakan karena kondisi eksisting kawasan sudah berorientasi terhadap manusia dapat menciptakan kawasan yang ramah terhadap lingkungan, dan memberikan kenyamanan bagi pengguna kawasan.

Karakter kawasan terbagi menjadi dua yaitu kawasan perdagangan sebagai karater utama dan kawasan hunian sebagai karakter pendukung. Karakter utama yang sudah sangat kuat ini harus dapat dikembangkan dengan citra yang lebih ramah lingkungan dan pedestrian friendly.kawasan perdagangan yang ada saat ini akan dikembangkan dengan memberikan linkage pejalan kaki yang jelas antar bangunan. Semsntara untuk kawasan hunian akan diberikan peningkatan kenyaman mikro klimat dengan penambahan jalur-jalur hijau pada sepanjang jalur pedestrian.

Ruang terbuka hijau dalam kawasan merupakan ruang terbuka hijau yang dapat berfungsi sebagai pemenuh kebutuhan aktifitas sosial sebagai ruang terbuka aktif dan pasif. Ruang terbuka aktif pada kawasan ini terdiri dari ruang terbuka yang dapat menampung kegiatan sosial kawasan seperti: kegiatan olahraga, kesenian, budaya dan rekreasi. Sementara itu ruang terbuka pasif berfungsi sebagai buffer serta hutan kota untuk menjaga microclimate kawasan

Ruang terbuka hijau kawasan memiliki fungsi utama lain sebagai penanggulangan permasalahan lingkungan kawasan seperti banjir dan genangan air yang sering terjadi. Penentuan Jakarta Selatan sebagai daerah resapan air serta ruang hijau kota terbanyak menjadikan salah satu faktor pemacu pengembangan ruang terbuka hijau sebagai pendukung kawasan secara khusus, sebagai pendukung ekologis berisikan vegetasi-vegetasi alami berupa pohon peneduh dan pendukung ekologi.

Ruang terbuka hijau aktif pada kawasan merupakan ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai wadah beraktifitas sosial masyarakat yang ada di kawasan ataupun fungsi-fungsi yang terdapat di sekitar kawasan baik itu hunian ataupun komersial. Ruang terbuka hijau aktif kawasan memiliki beberapa bentuk dengan aktifitas yang berbeda yaitu ruang terbuka hijau yang sifatnya memusat seperti square, atau plaza yang dapat mewadahai kegiatan sosial secara umum serta dapat digunakan sebagai wadah aktifitas kesenian dan budaya serta rekreasi alam. Selain itu terdapat ruang terbuka hijau aktif yang sifatnya linier yang berupa jalur pedestrian utama yang dapat mewadahi kegiatan pendukung kawasan serta aktifitas olah raga

Kebutuhan ruang publik sebagai wadah aktifitas kota harus memenuhi kriteria kenyamanan, relaksasi, interaksi tidak langsung, interaksi langsung, dan pengalaman ruang. Kriteria tersebut dipenuhi dengan penyediaan tempat duduk dan tempat berinteraksi (Whyte,1980) Fasilitas tempat duduk akan tersebar secara merata pada setiap jalur pedestrian yang terdapat pada kawasan. Fasilitas duduk pada kawasan ini memiliki beberapa jenis yaitu :

  1. benches, benches merupakan tempat duduk yang memiliki kapasitas yang lebih dari satu, tempat duduk ini sangat berguna untuk interaksi pasif pada kawasan
  2. tangga, tangga dapat menjadi fasilitas tempat duduk yang sangat efektif karena dapat menampung kapasitas yang banyak

Jenis-jenis fasilitas duduk ini direncanakan untk dapat menghidupikan ruang hijau kota secara efektif.

Selain tempat duduk masih ada beberapa elemen perabot kawasan yang mendukung hidupnya ruang kota dalam kawasan, seperti: lampu taman, tempat sampah, shelter, dan kios. Semua elemen ini merupakan penunjang akan kenyamanan ruang luar kota sebagai wadah aktifitas sosial. Elemen-elemen ini diletakkan secara teratur pada setiap jalur pedestrian dan titik-titik simpul utama kawasan. Letak yang teratur ini akan dapat mengoptimalkan peran dari elemen tersebut terhadap interaksi sosial pengguna kawasan.

  

 

Gambar 27 : Konsep Titik Simpul Kawasan

Pedagang kaki lima pada kawasan akan diatur kembali agar kawasan memiliki citra yang tertata dan baik. Pedagang kaki lima sebagai aktifitas pendukung kawasan akan dipindah dari lokasi yang ada sekarang menuju lokasi baru didalam blok perdagangan yang memiliki potensi besarnya arus pedestrian

Ruang-ruang pada lokasi baru akan direncanakan dengan memberikan ruang baru yang memadai bagi para pedagang sehingga citra yang awalnya tidak teratur menjadi teratur dan membaur dengan karakter utama komersial pada blok-blok tersebut.  Aktifitas ini diharapkan dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi kawasan.

  

 

Gambar 28 : Konsep Tata Letak Aktifitas Pendukung

Tata letak massa bangunan pada kawasan ini disesuaikan dengan bangunan eksisting. Integrasi antara bangunan baru dan lama dilahirkan melalui kesamaan fungsi serta tipologi bangunan. Pola tata massa pada kawasan ini menggunakan pola linier yang mengikuti sirkulasi-sirkulasi kendaraan untuk bangunan-bangunan komersial. Sementara bangunan-bangunan hunian menggunakan pola grid dan terpusat untuk dapat memberikan tata letak massa yang terintegrasi dengan bangunan eksisting. Pola tata massa yang terdiri dari beberapa konfigurasi ini bertujuan untuk dapat memberikan tata massa yang gradual terhadap kawasan yang terdapat disekitarnya yaitu residensial dengan grid dan kluster serta komersial dengan tata massa linier.

Pembentukan karakter kawasan dapat diperkuat dengan pengembangan bangunan landmark yang dapat merepresentasi citra kawasan. Pada kawasan ini bangunan landmark kawasan adalah bangunan Pasar Minggu yang terintegrasi dengan stasiun dan terminal. Sementara untuk dapat memberikan tanda batas kawasan direncanakan bangunan gerbang sebagai penangkap orientasi kawasan dari luar.

Skyline bangunan juga direncanakan dengan baik agar kawasan dapat mwmiliki nilai estetika yang baik. Untuk garis langit ini ditentukan dengan gradasi ketinggian yang menengah di pusat kawasan kemudian menurun hingga rendah pada bagian luar kawasan. Pertimbangan ini dilakukan dengan melihat kawasan sekitar kawasan yang hanya memiliki tinggi bangunan rendah.

Langgam bangunan yang terdapat dikawasan akan memiliki konsep langgam bangunan yang responsif terhadap mikro klimat kawasan. Bangunan yang akan direncanakan akan memberikan dampak yang baik pada lingkungan karena direncanakan dengan pendekatan arsitektur pengembangan berkelanjutan. Bangunan utama yang berupa pasar direncanakan sebagai bangunan landmark dengan langgam yang lebih berteknologi yang ramah lingkungan dengan fasade yang dapat memberikan citra terhadap fungsi perdagangan yang terdapat didalamnya.

  

Gambar 29 : Konsep Tata Bangunan Kawasan

Sumber : PT Jakarta Konsultindo, Laporan Pendahuluan pekerjaan “Penyusunan UDGL Kawasan Pasar Minggu”, Jakarta, Januari 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s