Pariwisata Jakarta dan Kemacetan Lalu-Lintas


Dalam kepariwisataan dikenal berbagai daya tarik wisata. Sebut saja misalnya Kawasan Wisata Belanja Pasar Baru, wisata didik seperti SeaWorld di Ancol, Wisata Bahari di Danau Sunter, dan wisata agro Jakarta Selatan (Taman Anggrek Ragunan, Balai Benih Ikan Ciganjur dan Taman Margasatwa Ragunan). Keempat jenis wisata ini merupakan ragam yang berkembang di perkotaan, dalam hal ini Jakarta. Hal ini untuk membedakan dari daya tarik wisata yang berlokasi di luar kota, seperti Candi Borobudur di Jawa Tengah, tempat pembuangan tawanan di Boven Digul atau tempat tahanan politik di Pulau Buru (daya tarik wisata nostalgia), dan sebagainya. Dalam lingkup wisata kota, berbagai komponen produk yang tersedia di kota merupakan potensi wisata, untuk mewujudkan kota sebagai destinasi. Dengan begitu beraneka ragamnya daya tarik wisata yang tersedia di kota seperti Jakarta, maka jenis kegiatan wisata yang dapat dikembangkan juga sangat beragam.

Dalam mengunjungi daya tarik wisata, terdapat 2 pendekatan yang biasanya digunakan wisatawan, yakni dengan mengikuti paket wisata tertentu dan dengan menelusuri jalur wisata sendiri. Perjalanan wisata yang memanfaatkan paket wisata, umumnya dirancang oleh biro perjalanan wisata, di mana wisatawan mengikuti seluruh program yang telah dibayarnya. Wisatawan akan dipandu oleh pramuwisata dari satu obyek ke daya tarik wisata lain yang lokasinya sudah tertentu. Sebaga sarana pengangkutan, biasanya biro perjalanan wisata sudah menyediakan, termasuk dalam harga paket yang yang telah wisatawan dibayar. Dalam bentuk perjalanan wisata berupa jalur wisata, pemilihan daya tarik wisata dan perancangan lintasan perjalanan dilakukan oleh sang wisatawan sendiri. Pramuwisata yang kerap ditemui wisatawan di sekitar daya tarik wisata, memiliki fungsi lebih sebagai pemberi penjelasan, bukan untuk mengantarkan. Sebagai alat angkut, wisatawan bebas memilih dan berganti-ganti sarana perangkutan yang tersedia di kota.

Terkait dengan perjalanan wisata, baik dalam bentuk paket wisata ataupun jalur wisata, jelas terlihat bahwa aspek transportasi merupakan salah satu faktor penentu kepuasan perjalanan wisatawan. Dikaitkan dengan kondisi transportasi Jakarta, kiranya kita semua mafhum dengan kemacetan yang telah merata di Jakarta. Ada yang mengatakan bahwa kemacetan di Jakarta yang tingkat kemacetannya semakin tinggi dan penyebarannya yang semakin melebar disebabkan oleh pertumbuhan jalan yang tidak seimbang dengan pertumbuhan kendaraan bermotor, khususnya jalan-jalan negara/propinsi. Upaya menata sistem transportasi Jakarta sudah banyak dilakukan pemerintah, antara lain : penerapan sistem Bus Way, kewajiban mengangkut penumpang minimal 3 orang, monorel, penataan pola pergerakan, penyebaran pusat-pusat bangkitan dan tarikan lalu-lintas, dan sebagainya. Namun, tetap saja gejala kemacetan lalu-lintas merajai jalan-jalan Jakarta.

Sebetulnya, pelayanan apa sih yang dibutuhkan wisatawan, untuk melancarkan perjalanan berwisatanya ? Secara keseluruhan, pelayanan perjalanan wisatawan dapat dibedakan atas : pelayanan antara tempat/negara asal dengan ke pintu masuk (bandara/pelabuhan), pelayanan penerbangan nasional,  pelayanan di pintu masuk, pelayanan transportasi antara pintu masuk dengan fasilitas akomodasi, dan pelayanan antara fasilitas akomodasi dengan daya tarik wisata. Pada masing-masing pelayanan transportasi tersebut perlu dilakukan kajian kualitas layanan yang telah diberikan, khususnya kepada wisatawan. Sebagai contoh, untuk pelayanan antara pintu masuk dengan fasilitas akomodasi, hal-hal yang kerap menjadi keluhan adalah layanan taxi, sampai-sampai hal ini tercantum dalam buku panduan perjalanan di luaran (di luar negeri maksudnya), kalau ke Jakarta pakailah taxi yang berwarna biru, sehingga sebagian besar taxi di Jakarta sekarang berwarna biru. Hal-hal lain yang menjadi keluhan wisatawan adalah aspek pelayanan (kapasitas angkutan, antrian, pilihan moda angkutan, keamanan dan keramahan awak). Untuk pelayanan transportasi antara fasilitas akomodasi dengan daya tarik wisata, yakni perjalanan di dalam kota seperti Jakarta, tuntutan layanan yang memadai dari angkutan umum adalah : kesesuaian rute; kemudahan mencapai tempat pemberhentian; kemudahan mendapat kendaraan; ketepatan keberangkatan dan kedatangan; kemudahan perpindahan antar rute/trayek; kecepatan perjalanan; kejelasan informasi tarif; kejelasan informasi rute dan titik-titik perhentian; kemudahan naik/turun kendaraan; kesopanan pengemudi; kejujuran pengemudi; kesesuaian tarif dengan pelayanan; kesesuaian tarif dengan kemampuan daya beli; kesesuaian tarif dengan kenaikan harga; potongan tarif bagi anak-anak, lansia dan cacat; kondisi penumpang di dalam kendaraan; kebersihan dalam ruangan; kesejukan ruangan; kecukupan lampu; kenyamanan dalam kendaraan; keamanan dalam kendaraan; kondisi kendaraan untuk keselamatan; kesadaran pengemudi akan keselamatan penumpang; dan kelancaran perjalanan kendaraan.

Wah, ternyata secara umum dapat diperkirakan betapa beratnya upaya untuk mewujudkan layanan transportasi yang memadai bagi wisatawan kota seperti Jakarta, dengan melihat berbagai kriteria di atas. Untuk kesesuaian rute, Dinas Perhubungan kiranya cukup gencar mengawasi bis-bis kota. Untuk ketepatan keberangkatan dan kedatangan, ini jelas tanda tanya besar. Untuk kecepatan perjalanan, lha wong di mana-mana macet. Tentang informasi rute dan titik-titik perhentian, yakh lumayan ‘lah. Untuk kesopanan dan  kejujuran pengemudi, bayangkan kita naik Metromini, rasanya kita tahu sendiri kondisinya. Untuk kesesuaian tarif dengan pelayanan, boro-boro pelayanan, dapat diangkut saja sudah untung. Untuk potongan tarif bagi anak-anak, lansia dan cacat; dari pada kena kewajiban memberi potongan, lebih baik tidak usah diangkut saja. Untuk keamanan dalam kendaraan, bayangkan kita naik Kopaja atau Kowanbisata, siap-siap aja kehilangan dompet dan HP. Untuk kondisi kendaraan untuk keselamatan, lha wong bayarnya cuma Rp. 2.000 koq minta selamat. Kesadaran pengemudi akan keselamatan penumpang; “emangnye gua pikirin”, kata supir dan kenek. Untuk kelancaran perjalanan kendaraan, akh tau sendiri lah. “Kalau mau enak naik taxi aja”, kata supir Metromini dan Kopaja. Naik taxi sikh oke, tetapi tetap aja kena macet.

Rasanya masih jauh untuk dapat mewujudkan wisata kota yang berkualitas di Jakarta, melalui baik melalui bentuk paket wisata, maupun jalur wisata. Kondisi sistem transportasi Jakarta merupakan salah satu kendalanya. Lalu tugas siapa untuk menguraikan benang kusut tersebut ? Saya jadi ingat kata-kata dalam rapot anak saya ketika di TK, ketika prestasinya ada yang kurang untuk suatu bidang kegiatan. Bunyinya, “_ _ _ menjadi tugas kita bersama untuk membenahi hal _ _ _”. Kira-kira itulah jawabnya.

Keterangan : Ditulis pada tanggal 29 Agustus 2004.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s