Masalah Transportasi Jakarta


Masalah transportasi Jakarta merupakan salah satu aspek yang cukup membebani pengguna jalan, baik pengguna dari Jakarta sendiri maupun dari luar yang berkepentingan dengn Jakarta. Penulis yang dibesarkan di kota ini masih ingat keadaan di tahun 1960-an ketika keadaan jalan di Jakarta masih begitu lengangnya, sehingga saat ini dikenal adanya aktivitas remaja berupa kebut-kebutan mobil, dan ini di lakukan di siang hari. Ini menunjukkan sediaan prasarana transport yang melebihi demand pada saat ini. Sekarang ini, kalau mau kebut-kebutan yang harus malam hari, kira-kira di antara pukul 11.00 sampai pukul 04.00. Di luar waktu tersebut, kepadatan lalu-lintas sudah mulai menggeliat.

Beberapa strategi untuk mengatasi persoalan transportasi di Jakarta yang sudah dijalankan antara lain : DBB (daerah bebas becak), three-in-one, fly over, JORR dan underpass dan busway (penamaan yang kurang tepat tetapi populer). Beberapa strategi ini masih dalam proses under construction. Ke depan sejumlah strategi lain masih akan digelar, antara lain : JORR dan JORR 2, subway, dan 6 ruas jalan tol.

Secara generik masalah transportasi perkotaan dapat dirinci atas 8 aspek. Pertama, kemacetan lalu lintas dan kesulitan parkir. Kemacetan adalah salah satu masalah yang paling menonjol. Masalah terutama terkait dengan penggunaan mobil, yang jumlahnya terus meningkat, dan akhir-akhir ini juga diramaikan dengan peran sepeda motor. Di Jakarta, sarana transport ini telah menimbulkan tuntutan peningkatan permintaan akan sediaan prasarana transportasi. Namun, upaya penyediaan prasarana sering kali tidak mampu untuk mengikuti perkembangan peningkatan permintaan tersebut. Sarana transport yang sudah berada di wilayah kota, akan menghabiskan sebagian besar waktunya dalam kondisi terparkir. Dengan demikian, dampak lain peningkatan jumlah sarana transportasi tadi adalah kebutuhan ruang parkir, terutama di pusat-pusat kegiatan kota.

Kedua, kekurangan transportasi umum. Sediaan layanan transportasi umum berada pada kondisi melebihi kapasitas, atau kalau tidak di bawah kapasitas. Selama jam sibuk, tingginya jumlah penumpang telah menciptakan ketidaknyamanan bagi pengguna. Pada sisi lain, rendah pemanfatan layanan transportasi umum di daerah-daerah pinggiran kota membuat layanan tersebut tidak menguntungkan secara finansial.

Ketiga, kesulitan bagi pejalan kaki. Kesulitan-kesulitan ini antara lain timbul dari tingginya volume lalu lintas, di mana tidak terjadi keseimbangan antara mobilitas bagi pejalan kaki terhadap kendaraan, di samping adanya tidak diperhatikannya kebutuhan bagi pejalan kaki dalam desain sarana fisik. Lihat saja di Terminal Kampung Melayu, mengapa dalam rancangan fly-over di sana tidak sekalian di sertakan rancangan jembatan penyeberangan bagi pejalan kaki.

Keempat, hilangnya ruang publik. Sebagian besar jalan adalah milik umum dan bebas diakses. Namun, peningkatan lalu lintas telah menimbulkan dampak dalam bentuk pengurangan kegiatan masyarakat yang di masa lalu terkait dengan jalan, seperti pasar, parade dan prosesi, dan interaksi masyarakat. Hal-hal ini telah hilang secara bertahap, tergantikan dengan mobil. Secara tak sadar, kegiatan ini beberapa di antaranya telah berpindak tempat ke mal sebagai tempat berinteraksi sosial baru.

Kelima, dampak lingkungan dan konsumsi energi. Pencemaran, termasuk kebisingan, yang dihasilkan oleh transportasi telah menjadi menimbulkan dampak serius bagi kualitas lingkungan hidup, bahkan bagi kesehatan penduduk perkotaan. Lebih jauh lagi, konsumsi energi oleh transportasi perkotaan telah menimbulkan peningkatan dan ketergantungan pada BBM.

Keenam, kecelakaan dan keselamatan. Pertumbuhan lalu lintas di daerah perkotaan telah berdampak pada peningkatan jumlah kecelakaan dan korban. Akibat volume lalu lintas yang meningkat, orang semakin merasa kurang aman untuk menggunakan jalan-jalan.

Ketujuh, konsumsi lahan. Konsumsi lahan untuk transportasi memakan ruang yang cukup besar. Bagi Jakarta yang memiliki ruang terbatas, hal ini akan sangat berarti. Penggunaan ini antara lain untuk persimpangan tak sebidang, damija jalan nontol dan jalan tol, tempat parkir. Contoh kasus untuk Hempstead, Long Island, New York, damija jalan : 11,9 %, parkir : 21,8 %, bangunan : 5,3 %, lain-lain : 61,0 %.

Kedelapan, distribusi angkutan kargo. Globalisasi dan pertumbuhan perekonomian telah mengakibatkan pertumbuhan jumlah pengiriman barang, yang turt melintasi wilayah kota. Lihat saja di Jakarta Utara, truk-truk kontener dari dan ke Pelabuhan Tanjung Priok telah turut berperan serta memacetkan jalan. Lalu lintas angkutan kargo turut menggunakan prasarana transportasi yang sama dengan mobil dan angkutan penumpang umum. Mobilitas kargo merupakan hal yang harus diperhitungkan dalam permasalahan transportasi kota. Diperlukan strategi dapat untuk meredakan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh kegiatan pengiriman barang, khususnya yang berukuran besar seperti kontener.

Dengan semakin meluasnya “Jakarta”, tidak hanya Provinsi DKI Jakarta, tetapi Jabodetabek Punjur, kedelapan masalah transportasi perkotaan di atas harus mendapat penyelesaian yang memadai. Salah satu upaya yang tengah digalakkan adalah pengembangan sistem angkutan umum masal, atau apapun istilahnya, antara lain : busway, di samping sistem angkutan umum masal konvensional. Upaya-upaya lain tentunya perlu digalakan, antara lain dalam rangka revisi rencana rinci tata ruang wilayah kecamatan bagi 42 kecamatan di Provinsi DKI Jakarta, di samping menyongsong revisi rencana tata ruang wilayah (RTRW)  Provinsi DKI Jakarta. Upaya ini hendaknya tidak semata-mata bertolak dari aspek transportasi saja, tetapi juga mempertimbangkan aspek perkotaan dan regional Jakarta lainnya.

Keterangan : Ditulis pada tanggal 28 Oktober 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s