Tantangan Penataan Kawasan Kota Tua Depok


Depok sebenarnya merupakan sebuah kota yang sudah berumur tua, walaupun kenyataannya tanggal 27 April 1999 dijadikan hari jadi Kota Depok. Depok sudah eksis sejak akhir abad ke-17, ketika seorang saudagar Belanda, eks VOC, bernama Cornelis Chastelein (1657-1714) membeli tanah di Depok seluas 12,44 km persegi dengan harga 700 ringgit. Berarti umur Depok secara de facto sekitar 3 ½ abad. Belum lagi jika sejarah Depok dirunut dari zaman prasejarah. Di Depok dan sekitarnya ditemukan antara lain menhir “gagang golok“, punden berundak “Sumur Bandung“, kapak persegi dan pahat batu yang merupakan peninggalan zaman megalit. Selain itu ada pula peninggalan zaman Neolit berupa baji batu dan sejenis beliung batu.

Dengan umur yang begitu panjang, seyogyanya Depok memiliki peninggalan bangunan-bangunan bersejarah. Wilayah yang ditengarai merupakan “kota tua” adalah di sekitar Jalan Siliwangi, Jalan Pemuda, Jalan Kartini, serta sedikit di Jalan Margonda. Kenyataannya, saat ini puluhan bangunan tua di Jalan Pemuda telah beralih rupa menjadi bangunan komersial, antara lain kawasan pertokoan, SPBU, kawasan perumahan, dan gudang. Saksi peradaban masyarakat Depok dahulu semakin sulit dijumpai. Jumlah bangunan tua di Kota Depok ini tidak lebih dari 10 bangunan, diantaranya : Rumah Sakit Pemuda, bekas rumah Presiden Depok, gereja, rumah penduduk, dan gedung Yayasan LCC (Lembaga Cornelis Chastelein). Seharusnys Depok merupakan sebuah kota yang kaya dengan bangunan tua, diantaranya merupakan peninggalan jaman penjajahan Belanda yang berumur ratusan tahun. Kenyataannya, bangunan berarsitektur Belanda tersebut mampu dikalahkan kepentingan bisnis. Keberadaannya sampai saat ini diibaratkan lampu yang sudah padam. Kawasan itu ibarat orang yang sudah sakit parah, tetapi tak pernah diobati. Kalaupun diobati, hanyalah oleh diri sendiri.

Semua ini berpangkal dari pembangunan ekonomi yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jangka pendek, sehingga masyarakat kurang peduli pada nilai-nilai historis dan estetika lingkungan maupun bangunan miliknya, yang berdampak pada hilangnya berbagai aset sejarah dan budaya kota tua. Masyarakat menganggap bentuk bangunan lama tidak praktis untuk lokasi kegiatan ekonomi, sehingga sebagian besar bangunan diubah. Beberapa pemilik bangunan merasa bahwa dialah yang berkuasa atas bangunan miliknya, sehingga sewaktu izin bangunan tidak keluar dan ketika bangunan disegel, mereka masih tetap melakukan pembangunan menurut maunya sendiri, tanpa mengikuti kaidah konservasi. Mereka membutuhkan ruang untuk  kegiatannya dan wujud bangunan yang lebih estetis. Pada sisi lain, komunitas yang ada tak begitu apresiatif terhadap tradisi. Bangunan-bangunan kuno dianggap membutuhkan ongkos pemeliharaan yang tinggi, sehingga menurut pandangan dari sisi keuangan lebih memilih merobohkan atau menelantarkannya.

Pihak pemerintah sebetulnya mengarahkan agar pembangunan baru dilaksanakan dengan tidak merusak bangunan lama dan mengikuti gaya lama. Intinya tidak merusakan tatanan yang sudah ada. Masyarakat pemilik gedung dapat memanfaatkan bangunannya sejauh mematuhi ketentuan peraturan perundangan mengenai pemanfaatan lingkungan bangunan bersejarah.

Sebenarnya, kota tua tidak hanya merupakan kawasan kota bersejarah. Di dalamnya menyangkut persoalan sosial, ekonomi, dan budaya. Upaya mempertahankan bangunan lama ternyata hanya akan menghasilkan monumen-monumen bisu yang kurang menggugah rasa memiliki masyarakat. Untuk itu diperlukan pertimbangan nilai ekonomi lahan sebagai faktor pengikat utama dalam membentuk fungsi-fungsi kegiatan dalam kawasan. Nilai ekonomi lahan ini dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan kegiatan preservasi khususnya di pusat kota tua. Karakter lahan kota tua sarat dengan potensi lokasi yang sangat strategis dan dilengkapi dengan daya dukung yang tinggi akan menyebabkan naiknya prestige kawasan, sehingga dapat melambungkan nilai ekonomi lahannya.

Bangunan tua di kota tua sesungguhnya sebagai warisan dari suatu peradaban yang harus dilestarikan karena bisa memberikan manfaat bagi perekonomian di kota itu. Keberadaan kota tua diartikan bagaimana kawasan itu dimanfaatkan, baik dari segi ekonomi, sejarah dan pariwisata, sambil tetap mempertahankan keaslian bentuknya. Beberapa gagasan yang dapat dipertimbangkan antara lain, pertama, pemerintah harus menyadari bahwa penataan kota tua tidak sekedar memperbaiki kualitas lingkungan dan arsitektur bangunan, tetapi termasuk di dalamnya sosial dan budaya, serta kultur budaya etnis. Kalau orang datang ke suatu kota dan tidak merasakan lagi nuansa zaman dulu, artinya Kota Tua itu sudah hilang. Menghadirkan nuansa zaman dulu dapat dilakukan dengan mengembangkan dan memadukan antara aset sejarah, tradisional, dan konsep alam setempat.

Kedua, membuat program-program yang mem-pressure pemerintah kota agar melakukan perbaikan lingkungan. Contohnya, meminta penataan PKL, meminta penataan parkir dan pengaturan lalu lintas. Ketiga, pembentukan organisasi pecinta kota tua. Keempat, pelayanan terhadap perizinan pemanfaatan dan pemugaran bangunan–bangunan cagar budaya dilakukan dengan administrasi satu pintu. Dengan demikian pemilik bangunan tidak repot–repot untuk datang mengurus perizinan ke beberapa instansi yang diperlukan. Realisasi usul tersebut membutuhkan waktu yang panjang, sebab diperlukan kejelasan mengenai pembagian wewenang masing-masing instansi-intansi terkait. Kelima, untuk mencegah hilangnya bangunan bersejarah karena kepentingan komersial, maka aspek dana yang melibatkan masyarakat harus dibahas sedini mungkin, dengan suatu kepastian bahwa masyarakat akan memperoleh keuntungan dari proses ini. Keenam, perawatan gedung-gedung yang di antaranya milik pemeritah, BUMN atau BUMD diserahkan ke masing-masing pihak, supaya tidak terjadi tumpang tindih.

Langkah selanjutnya adalah menjadikan kota tua sebagai daya tarik wisata. Beberapa hal yang dapat dilakukan, pertama, di lokasi kota tua diadakan kios cenderamata serta suvenir kerajinan tangan. Kedua, agar konsep wisata kota tua lebih berhasil, perlu dikombinasikan dengan konsep wisata lainnya terutama wisata ziarah dan wisata sejarah. Ketiga, harga makanan dan minuman dibikin harga untuk kocek pelajar yang mampir ke kawasan tersebut.  Keempat, akses ke kawasan kota tua dibikin nyaman, aman, khususnya di malam hari. Kelima, perlu diusahakan agar angkot jangan sampai masuk ke tengah kawasan. Keenam, untuk parkir harus dibuat zona parkir tersendiri. Ketujuh, jalan di kawasan itu dijadikan tempat wisata kuliner.

Dengan pendekatan preservasi dan pariwisata ini, diharapkan sejumlah besar manfaat dapat dipetik kota tua, tanpa mengeluarkan banyak biaya terutama dalam hal pengadaan lahan. Jika kota tua dikelola dengan baik, kegiatan ini dipandang dapat memberi kontribusi berupa PAD yang besar bagi kota.

Keterangan : Ditulis pada tanggal , 8 Juli 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s