Tantangan Penguatan Ekonomi Megapolitan


Perkembangan megapolitan dunia sangat memprihatinkan : Tokyo diperkirakan akan menjadi 36.2 juta jiwa, Mumbai 22.6 juta jiwa, dan Delhi 20.9 juta jiwa. Sementara itu penduduk Jakarta, menurut RTRW DKI 2010, sampai tahun 2010 dibatasi sebanyak-banyaknya 12.500.000 jiwa, walaupun dalam kenyataannya “katanya” ada kecenderungan menurun.

Sementara itu, sebagaimana disinyalir Tommy Firman (Kompas, Pengembangan Wilayah untuk Jangka Panjang), kota-kota dunia di masa depan akan saling menyatu dan saling bergantung dalam suatu sisem perekonomian global. Dalam saling kebergantungan global inilah, Jakarta khususnya atau umumnya megapolitan Jabodetabekpunjur dan megapolitan-megapolitan lain di Indonesia perlu memancangkan visinya, yakni apakah akan menjadi pemenang atau akan kalah.

Dalam perekonomian global, pertarungan antar megapolitan terjadi dalam bentuk perebutan peran sebagai wilayah/lokasi investasi. Satu megapolitan, pada hakekatnya merupakan tempat teraglomerasinya pengusaha-pengusaha handal, serta SDM unggulan, yang secara bersinergis membentuk kekuatan ekonomi bagi megapolitan tersebut. Dengan adanya perpaduan kekuatan ini, maka suatu megapolitan berpotensi untuk menjadi daya tarik bagi investor global, jika dipandang akan menguntungkan investor tersebut. Sebaliknya, jika tidak menguntungkan, investor global akan hengkang. Hal inilah yang belakangan ini terjadi di Indonesia, dengan hengkangnya sejumlah pabrik ke negara lain, seperti ke Vietnam. Mengherankan juga, belum lepas dari ingatan kita Vietnam baru saja selesai dari perang berkepanjangan.

Megapolitan dunia bersaing satu sama lain secara agresif, tidak hanya dalam hal perebutan untuk menjadi lokasi investasi, tetapi juga : peran sebagai hub pelayaran global (Pelabuhan Tanjung Priok dan Batam yang berusaha untuk bersaing dengan Singapura), perebutan peran sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan olahraga internasional dan regional, perebutan peran sebagai daerah tujuan wisata (DTW) internasional, dan sebagainya. Lalu di mana posisi megapolitan-megapolitan Indonesia (Jabodetabekpunjur, Mebidang, Gerbangkertosusila, dan lain-lain) dalam pertarungan megapolitan global ini ?

Dengan kecenderungan jumlah penduduk megapolitan yang terus membengkak, tuntutan untuk unggulan dalam perekonomian global merupakan hal yang tak dapat dielakkan. Ini terutama disebabkan oleh peran megapolitan sebagai mesin bagi pertumbuhan perekonomian nasional, yakni sebagai : pencipta lapangan pekerjaan, kesejahteraan, pasar domestik bagi produk pertanian, serta penghasil barang dan jasa. Jika suatu megapolitan tidak berhasil menduduki posisi unggul dalam perekonomian  global, maka segenap peran di atas pada lingkup nasional tak akan dapat terwujud.

Tantangan dalam mewujudkan megapolitan yang unggul ini, harus dijawab antara lain melalui aspek ekonomi wilayah megapolitan tersebut. Agar suatu wilayah megapolitan dapat unggul secara global, harus ada kemampuan untuk senantiasa melakukan penyesuaian atas perubahan pasar perekonomian lokal, nasional dan internasional. Untuk itu dibutuhkan upaya penguatan kemampuan kapasitas ekonomi megapolitan, perbaikan iklim investasi, serta peningkatan produktivitas dan daya saing pengusaha, wiraswastawan dan pekerja. Tiap megapolitan tertentu memiliki kondisi yang khas, yang dapat memperkuat atau melemahkan potensi untuk pembangunan ekonomi. Kondisi inilah yang menentukan keuntungan relatifnya untuk menarik, membangkitkan dan menahan investasi. Untuk merujudkan perekonomian megapolitan yang kuat, diperlukan pengkajian atas kondisi dan struktur perekonomian dari daerah-daerah di dalam megapolitan tersebut, yang berlanjut kepada Analisis SWOT. Hal ini akan bermuara pada pemahaman atas isu utama serta peluang yang dimiliki perekonomian megapolitan untuk bertarung pada lingkup global. Usaha swasta yang sukses, kerjasama pemerintah-swasta yang produktif, iklim usaha yang positif, serta peran pemerintah daerah, merupakan faktor penentu terwujudnya perekonomian megapolitan yang tangguh.

Perumusan strategi pengembangan perekonomian megapolitan, perlu dilakukan secara bersama-sama oleh pemerintah daerah yang ada di dalamnya, dengan juga menyertakan pihak swasta. Sedangkan pelaksanaannya akan dilakukan baik oleh pemerintah daerah, swasta dan masyarakat, sesuai kemampuan dan kekuatan masing-masing.

Yang hendaknya tidak dilupakan, pertumbuhan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh perekonomian formal, tetapi juga oleh sektor informal, yang kadang-kadang kuantitasnya melebihi sektor formal. Hubungan antara sektor formal dan informal di megapolitan yang bersangkutan perlu dipahami dan diperhatikan, dalam merumuskan strategi pengembangan megapolitan.

Upaya penguatan perekonomian megapolitan di Indonesia, menghadapi kendala uata aspek administrasi pemerintahan. Sebagai contoh, megapolitan Jabodetabekpunjur mencakup 14 kabupaten/kota, yaitu : Kota/Kabupaten Bogor, Kota/Kabupaten Bekasi, Kota/Kabupaten Tangerang, Kota Depok, 6 Kota/Kabupaten di Provinsi DKI Jakarta, dan Kabupaten Cianjur. Mewujudkan sinergi program penguatan perekonomian bagi ke-14 kabupaten/kota akan merupakan pekerjaan yang musykil, mengingat kronologis “cakar-cakaran” yang selama ini kerap terjadi antar daerah tersebut pada berbagai sektor pembangunan, walaupun “katanya” ada BKSP Jabodetabek. Kesulitan lain, daerah mana yang mau disebut memiliki kelemahan tertentu, atau mendapat strategi tertentu yang dalam kacamata lokal kurang menguntungkan. Memang merupakan pekerjaan yang sulit. Namun, mau tak mau hal ini harus dilakukan, guna merebut posisi unggul dalam pertarungan antar megapolitan pada skala global.

Keterangan : Ditulis pada tanggal 28 Januari 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s