Jejak-Jejak Perang Dunia II di Jayapura


Jayapura, sebuah kota di Propinsi DT I Irian Jaya, merupakan sebuah kota yang memiliki cukup banyak obyek dan daya tarik wisata sejarah. Obyek dan daya tarik wisata sejarah tersebut pada umumnya memiliki kaitan erat dengan Perang Dunia II (PD II). Memang, baik Jepang mau­pun Sekutu pernah menggunakannya sebagai pijakan dalam perang besar terebut.

Sumber : http://2.bp.blogspot.com/-ZlNsUT-8UaE/TabQMs6ziYI/AAAAAAAAAW0/B5eGtzpzARE/s1600/jayapura2.jpg.

Kedatangan Jepang di Irian Jaya telah berlangsung lama sebelum Angkatan Perang Jepang menyerbu Indonesia. Pada masa tersebut Jepang telah melakukan kegiatan spionase di perairan sekitar Irian Jaya, dengan menggunakan perahu-­perahu penangkap ikan, untuk menyelidiki kondisi oseanografi, kependudukan, kota-kota, dan keterangan-keterangan lain yang berman­faat bagi angkatan laut. Dengan memanfaatkan keterang tersebut, Je­pang dapat merencanakan dan melaksanakan penyerangan atas wilayah IBT.

Jepang menyadari bahwa wilayah selatan (dilihat dari kedudukan Jepang) yang dikuasai oleh orang-orang kulit putih merupakan wilayah yang memiliki kekayaan alam yang melimpah. Wilayah tersebut harus dibebaskan agar segenap kekayaan tersebut dapat digunakan Jepang. Untuk itu, Jepang mempersiapkan agresinya dengan menempatkan kantor cabang Nanyo Kohatsu Kabushiki Kaisha di Irian Jaya. Perusahaan pro­duksi ini pada hakekatnya merupakan organisasi mata-mata musuh, dengan segenap pegawainya berkewajiban menyelidiki sumber-sumber pertambangan yang terdapat di utara Irian Jaya. Selain itu mereka juga mendata persebaran wilayah-wilayah subur guna dijadikan alasan untuk penyelidikan botani. Walaupun pada mulanya Pemerintah jajahan Belanda tidak menyetujui kehadiran Jepang, namun karena ketidak mampuannya membangun Irian Jaya, akhirnya terpaksa ijin dikeluarkan kepada sejumlah pengusaha Jepang.

Mendadak, pada tanggal 7 Desember 1941 waktu setempat, pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbour, Hawaii, diserang Jepang. Jepang memanfaatkan wilayah perkebunan yang terdapat di Irian Jaya sebagai salah satu batu loncatan menuju wilayah se­latan, dengan menjadikannya sebagai lapangan-lapangan terbang. Kekuasaan Belanda di Irian Jaya menyerah pada Jepang, khususnya pada bagian Utara dan Barat. Hanya di Merauke Belanda dapat bertahan selama PD II berlangsung. Tentara Jepang membangun pangkalannya di Jayapura, se­perti barak, depo amunisi dan depo makanan. Perlengkapan perang lainnya disiapkan di Teluk Yotefa dan Teluk Humboldt. Danau Sentani digunakan sebagai tempat pendaratan pesawat amfibi. Semua ini adalah dalam rangka persiapan Jepang menjarah Australia.

Kendatipun terdapat beberapa penduduk asli Irian Jaya yang bekerja sama dengan Jepang, namun banyak pula yang memberikan perlawanan, di bawah pimpinan antara lain oleh Silas Papare, Manseri Mangundi, Simson. Perlawanan ini dengan kejam dapat ditindas Jepang, bahkan penduduk Irian Jaya dijadikan tenaga kerja paksa. Dari luar Irian Jaya, khususnya Pulau Jawa, banyak pula didatangkan romusha, menambah tenaga kerja paksa tersebut, yang sebagian besar meninggal dunia.

Pada tanggal 22 April 1944, sejumlah besar kapal perang Amerika Serikat mendekati Hollandia, melakukan pendaratan oleh divisi ke 24, 32 dan 41 dari Sixth Army, yang dikomandoi oleh Jenderal Douglas Mac Arthur. Selanjutnya, Hollandia dijadikan pangkalan angkatan perang sekutu, berisi berbagai bangunan sementara seperti gudang amunisi, hanggar pesawat tempur, dok kapal perang, rumah sakit, bioskop, dan sebagainya. Kota ini sempat mencapai jumlah penduduk kurang lebih seperempat juta jiwa. Dalam strategi Mac Arthur untuk menduduki Filipina, beberapa tempat tertentu telah dirangkai menjadi tem­pat-tempat yang harus direbut, satu demi satu. Tempat yang telah berhasil direbut dijadikan pangkalan atau base. Pangkalan ini digunakan untuk merebut tempat berikutnya. Setiap base diberi nama sesuai urutan abjad alfabetis, dan Jayapura adalah base yang ke-G. Dengan demikian, Jayapura dikenal sebagai Base – G. Nama ini kemudian melekat pada kawasan tempat pangkalan angkatan laut dan lokasi pergudangan hingga sekarang ini. Sebelas buah dermaga dibangun di sekitar Teluk Imbi, yang hingga sekarang beberapa tempat memiliki nama Dok II, Dok IV, Dok V, dan seterusnya. Pada sebuah dataran tinggi dengan ketinggian kurang lebih 325 meter di atas permukaan laut, Mac Arthur mendirikan Markas Armada VII Amerika Serikat. Tak jauh dari markas di atas, pada suatu tempat dengan ketinggian 450 meter, didirikan Markas Besar Jenderal Mac Arthur. Salah satu bangunan dalam kompleks ini dijadikan rumah tinggal Mac Arthur, tempat beliau bermukim dari September 1944 sampai Maret 1945. Pada tempat Markas Armada VII dan Markas Besar Jenderal Mac Arthur tersebut sekarang terdapat sebuah tugu prasasti yang dikenal dengan nama Tugu Mac Arthur.

Rupa-rupanya Sekutu tak lama menduduki Hollandia. Sepeninggalan sekutu yang bergerak ke arah barat, penguasa-penguasan Belanda yang menggantikannya segera menjadikan Hollandia ibukota Irian Jaya.

Dalam perjalanannya meninggalkan Hollandia dengan sasaran Jepang, Kesatuan Divisi ke- 41 Amerika Serikat melakukan pendaratan di Arara, 125 mil sebelah barat Hollandia, pada tanggal 14 Mei 1944. Tanggal 18 Mei 1944, divisi ini menaklukkan Pulau Wakde di hadapan Arara. Setelah seluruh daerah antara Arara dan Teluk Maffin dikuasai, pada tanggal 27 Mei 1944 divisi ini menyerang Pulau Biak. Baru pada tanggal 20 Juni 1944 pulau ini dapat dikuasai. Melalui bandara-bandara di pulau ini Sekutu melancarkan serbuan terhadap penduduk Jepang di Kepulauan Maluku dan Pulau Sula­wesi. Dengan menggunakan Pulau Biak sebagai pijakan, selama 3 minggu Pulau Numfor diserang dari udara, hingga pada tanggal 2 Juli 1944 dapat dikuasai. Pada Tanggal 30 Juli 1944 pendudukan Jepang di Sausapor, yang sekarang berada di Kabupaten DT II Sorong dapat diakhiri. Dengan demikian, Sekutu menguasai Irian Jaya pada titik-titik vital dan memutuskan mata rantai kekuasaan Jepang. Kesatuan Tentara Jepang yang masih bebas tak dapat saling berhubungan, sehingga kekalahannya tinggal menunggu waktu saja. Maka berakhirlah Pendudukan Jepang di Irian Jaya pada tahun 1944.

Saat ini, Jayapura memiliki kedudukan sebagai ibukota Propinsi DT I Irian Jaya dan ibukota Kabupaten DT II Jayapura. Di kota ini banyak berdatangan penduduk dari luar propinsi, baik pejabat pemerintah pusat yang ditempatkan di Propinsi DT I Irian Jaya, atau karyawan swasta yang bekerja pada sektor perekonomian yang menggarap potensi sumber daya alam yang melimpah di sana, dengan Jayapura sebagai kota pangkalannya. Segenap kaum pendatang ini, dalam menjalani kehidupan sehari-harinya membutuhkan kegiatan wisata, di samping kesibukan sehari-hari. Untuk itu, segenap obyek dan daya tarik wisata yang terdapat di Jayapura memiliki potensi bila dikembangkan menjadi suatu Kawasan Pariwisata bagi mereka.

Di antara berbagai obyek dan daya tarik wisata yang terdapat di Jayapura, obyek dan daya tarik wisata sejarah merupakan daya tarik tersendiri bagi kota ini, mengingat se­jarahnya pada PD II yang lalu, sebagaimana telah diuraikan di atas. Beberapa obyek dan daya tarik wisata sejarah yang berhubungan dengan PD II di Jayapura, adalah Pantai Base – G, Bandara Sentani, Tugu Mac Arthur, Kawasan Konservasi Cagar Alam Pegunungan Cyclop, Kawasan Konservasi Taman Wisata Teluk Yotefa, serta tugu peninggalan pendaratan Jepang di Hamadi dan Abepura pantai.

Keadaan obyek dan daya tarik wisata ini pada umumnya cukup memprihatinkan. Sentuhan penanganan dan pengelolaan khusus belum terasa. Batas, antara kawasan pariwisata dengan guna lahan lain di sekelilingnya belum tegas. Beberapa obyek dan daya tarik wisata peninggalan PD II terserak tanpa terawat, seakan mempersembahkan diri dengan gratis bagi siapa yang ingin mempereteli. Fasilitas pariwisata penunjang, seperti shelter, kamar kecil, tempat berganti pakaian, kios, toko cenderamata, pusat informasi pariwisata, belum tersedia. Beberapa di antara obyek dan daya tarik wisata, serta kawasan pariwisata di atas telah memiliki rencana pengembangan. Namun, realisasinya masih terbentur pada dana. Sedangkan hal ini berpangkal pada prioritas bidang pembangunan. Berpatokan pada Bahan Rakerda Propinsi DT I Irian Jaya Tahun 1990, yang disusun oleh Bappeda Propinsi DT I Irian Jaya, maka dapat dilihat bahwa dalam Kebijaksanaan Umum Bidang Pendekatan Sektoral Pelita V, sektor pariwisata belum menjadi sektor prioritas. Sektor yang menjadi prioritas pada Pelita V di Propinsi DT I Irian Jaya ada 5 sektor. Pertama, pertanian, pendidikan, kesehatan dan perumahan. Kedua, perhubungan. Ketiga, pemerintahan, keamanan dan ketertiban. Keempat, kesejahteraan sosial. Kelima, industri. Keenam, tenaga kerja dan transmigrasi. Sektor-sektor di luar sektor prioritas (antara lain sektor pariwisata), dikembangkan sejalan dan serasi dengan sektor-sektor itu sendiri. Sedangkan apabila kita evaluasi sektor-sektor prioritas dalam Pembangunan Daerah Propinsi DT I Irian Jaya sejak Pelita I sampai Pelita IV, dapat dilihat bahwa sektor pariwisata juga tidak merupakan sektor prioritas. Pelita I : sektor prasarana, pertanian, pendidikan dan kesehatan. Pelita II : sektor prasarana perhubungan, pertanian, pendidikan dan kesehatan. Pelita III : sektor pertanian, prasarana perhubungan, pendidikan, dan kesehatan. Pelita IV : sektor pertanian, pendidikan dan kesehatan; sektor transmigrasi; sektor prasarana dan sarana perhubungan; sektor pemerintahan; sektor pertambangan dan energi. Berarti, sejak lebih dari 20 tahun yang lalu, sektor pariwisata di Propinsi DT I Irian Jaya belum juga dijadikan sektor prioritas.

Pangkal dari hal ini adalah kenyataan belum tingginya tingkat kebutuhan akan penyediaan produk pariwisata di propinsi ini. Wisatawan Nusantara yang potensial hanyalah pejabat pemerintah pusat yang di tempatkan di Propinsi DT I Irian Jaya, atau karyawan swasta yang bekerja pada sektor perekonomian yang menggarap potensi sumber daya alam yang melimpah di sana, dengan Jayapura sebagai kota pangkalannya. Sedangkan Wisatawan Mancanegara lebih memilih obyek dan daya tarik wisata kehidupan masyarakat di Wamena, sehingga menjadikan Jayapura hanya sebagai titik transit saja. Obyek dan daya tarik wisata sejarah peninggalan PD II, yang diperkirakan dapat menarik wisatawan Jepang, pada kenyataannya belum tentu demikian. Generasi muda Jepang tidak terlalu gembira akan semangat militerisme orang tua mereka. Mereka lebih menyukai obyek dan daya tarik wisata alam yang berupa laut dan pantai. Dengan kondisi obyek dan daya tarik wisata sejarah peninggalan PD II yang sangat tak terawat itu, apakah betul kaum muda Jepang akan menyukainya ? Upaya pengenalan profil wisatawan memang merupakan langkah pertama yang penting, sebelum pengembangan obyek dan daya tarik wisata dilakukan, karena merekalah yang kelak akan membutuhkan produk pariwisata tersebut. Untuk itu, suatu upaya penemukenalan profil wisatawan bagi Propinsi DT I Irian Jaya, khususnya Jayapura merupakan hal yang harus dilakukan. Penemukenalan profil ini meliputi keadaan geografis wisatawan (dari negara/propinsi mana), demografis (pembagian berasarkan jenis kelamin, struktur umur, tingkat pendidikan, pekerjaan), dan psikografis (alasan kedatangan, jenis obyek dan daya tarik wisata yang digemari). Adanya rumusan yang pasti mengenai profil wisatawan, akan memberikan dukungan yang kuat mengenai kebutuhan pengembangan pariwisata serta dampak ekonomi yag dapat dibangkitkan, sehingga hal ini dapat mempengaruhi prioritas pembangunan sektoral untuk masa yang akan datang. Siapa tahu kelak sektor pariwisata di Propinsi DT I Irian Jaya, khususnya di Jayapura dapat menjadi primadona.

Keterangan : Dimuat di harian Suara Pembaruan, 1 Juni 1991.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s