Inisiatif dan Strategi Mewujudkan Pembangunan Kota Jakarta Yang Berkelanjutan


Permasalahan Pembangunan Jakarta

Kota Jakarta merupakan kota metropolitan yang memiliki fungsi dan karakteristik sebagai :

  1. Ibukota negara dan pusat pemerintahan Nasional,
  2. Konsentrasi penduduk terbesar di Indonesia ,
  3. Pusat perekonomian Nasional,
  4. Kota jasa dan perdagangan berskala Nasional dan internasional,
  5. Pusat pengetahuan dan inovasi,
  6. Orientasi dan rujukan pembangunan bagi wilayah lainnya di Indonesia,

yang tumbuh dan berkembang sebagai representasi pertumbuhan dan perkembangan Nasional.

Dalam posisi tersebut, Kota Jakarta secara fisik memiliki berbagai kendala, dimana :

  1. Sebagian wilayahnya (± 40%) merupakan dataran yang berada lebih rendah dari muka laut pasang, sehingga rentan terhadap kejadian banjir dan genangan.
  2.  Lebih dari 80% wilayah Jakarta merupakan dataran dengan kemiringan <3%, sehingga memiliki kemampuan pematusan yang terbatas.
  3. Dilintasi oleh 13 sungai yang berhulu di wilayah Jawa Barat, sehingga rentan terhadap limpasan aliran permukaan yang berasal dari hulu.
  4. Terdapat indikasi terjadinya amblesan (land subsidence) yang signifikan di beberapa lokasi yang mencapai lebih dari 80 cm bahkan lebih dari 180 cm dalam waktu 5 tahun, sehingga memperburuk kejadian genangan, intrusi air laut, dan membahayakan konstruksi bangunan.
  5. Perluasan lahan terbangun secara intensif oleh tekanan penduduk dan aktivitasnya menyebabkan berkurangnya lahan terbuka yang dapat berfungsi sebagai penampung aliran permukaan, peresapan airtanah, pengatur iklim mikro, pereduksi pencemar udara, dan wahana interaksi sosial.
  6. Sumber air untuk penyediaan air bersih sangat terbatas, sehingga Kota Jakarta membutuhkan pasokan air baku dari wilayah di luar Jakarta. Pemanfaatan airtanah di Kota Jakarta berpotensi menyebabkan amblesan tanah.
  7. Keterbatasan lahan bagi pengelolaan sampah secara konvensional, sehingga Kota Jakarta membutuhkan wilayah di sekitarnya untuk pengolahan sampah.
  8. Kualitas air permukaan mencatat kondisi pelampauan terhadap baku mutu oleh beban limbah padat dan cair sejak dari hulu.
  9. Kualitas udara ambien pada beberapa lokasi mencatat kondisi pelampauan terhadap baku mutu oleh beban gas buang kendaraan bermotor.

Perkembangan Kota Jakarta hingga kini juga dicirikan oleh permasalahan :

  1. Keterbatasan sumberdaya alam dan lahan, terutama bagi penyediaan jasa ekologis dan ruang terbuka untuk kepentingan warga kota. Sebagaimana kondisi dan perkembangan kota-kota besar lainnya, kawasan perkotaan umumnya memiliki sumberdaya alam yang relatif terbatas untuk mendukung kebutuhan warga kotanya. Hal ini merupakan implikasi rasional tumbuhnya  suatu kota yang cenderung dibangun oleh faktor keuntungan lokasional bagi koleksi dan distribusi barang dan jasa; posisi geografis yang strategis sebagai simpul pertumbuhan; dan skala ekonomis bagi aktivitas pengolahan, perdagangan, dan jasa. Akumulasi dan konsentrasi aktivitas perkotaan hanya berlangsung pada lokasi yang tertentu, sehingga kota hanya tumbuh pada lahan yang terbatas yang sebagian besar dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas warga kota melalui aktivitas penambahan nilai. Dalam perkembangannya,  kegiatan perkotaan yang didominasi oleh kegiatan ekonomi tumbuh secara pesat dan memanfaatkan ruang kota secara intensif, sehingga ruang bagi kepentingan pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan yang tidak memberikan nilai tambah secara langsung menjadi semakin terbatas.
  2. Kejadian banjir dan genangan yang merupakan resultante berbagai kendala fisik, perubahan iklim global, kondisi infrastruktur, dan perilaku warga kota menunjukkan kecenderungan kala ulang yang semakin pendek. Kejadian dan kondisi banjir dan genangan yang pada masa lalu berulang pada kala 25 tahunan dan sepuluh tahunan, maka kini terjadi dua tahunan hingga tahunan.
  3. Peningkatan pergerakan lalu-lintas di Kota Jakarta secara intensif oleh peningkatan aktivitas warga Kota Jakarta dan wilayah lainnya menimbulkan kemacetan lalu-lintas pada sebagian besar ruas jalan utama pada jam puncak. Volume lalu-lintas meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan kondisi tahun 1988, namun panjang jalan di DKI Jakarta hampir tidak mengalami penambahan yang berarti. Indikasi kemacetan lalu-lintas ditunjukkan oleh kecepatan perjalanan angkutan umum rata-rata pada jam sibuk hanya sekitar 10,6 km/jam. Kondisi tersebut antara lain diakibatkan oleh pergerakan dari wilayah Bodetabek menuju dan berasal dari Kota Jakarta, dimana pada jam-jam sibuk dan sepanjang siang hari berada pada tingkat kritis dengan kecepatan sangat rendah, yaitu berkisar antara 10-20 km/jam dan bahkan kurang dari 10 km/jam dengan besar tundaan 10-15 menit  pada persimpangan kritis. Belum tersedianya sarana angkutan umum massal yang memadai serta kontribusi lalu-lintas terusan memperburuk kondisi transportasi di Kota Jakarta.
  4. Peranserta masyarakat dalam memperbaiki kualitas lingkungan masih relatif rendah. Kota Jakarta dihuni oleh penduduk dengan latar belakang heterogen, baik secara sosial-ekonomi dan sosial-budaya, sehingga tumbuh kesenjangan sosial (urban devide) yang belum bersinergi dalam membangun kapasitas sosial perkotaan. Walaupun laju pertumbuhan penduduk tercatat rendah, namun bagian penduduk yang tergolong miskin cukup tinggi. Dukungan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap peningkatan kualitas lingkungan relatif terbatas.
  5. Sebagai kota metropolitan, prasarana dan sarana pelayanan publik di Kota Jakarta belum seluruhnya memadai. Penyediaan air bersih, pengelolaan drainase, dan pengelolaan sampah kota belum mampu melayani warga kota dalam kuantitas dan kualitas pelayanan yang layak. Di samping belum memiliki sumber air baku untuk penyediaan air bersih kota dan lahan tempat pembuangan sampah, Kota Jakarta juga belum dilayani oleh sistem drainase kota yang memadai.

Mengacu pada prinsip dan prasyarat pembangunan kota yang berkelanjutan, maka untuk mewujudkan Kota Jakarta yang berkelanjutan perlu mempertimbangkan kondisi, karakteristik, permasalahan, dan tantangan yang dihadapi Kota Jakarta kini dan pada masa mendatang. Dengan mengartikan bahwasanya pembangunan berkelanjutan merupakan upaya terus-menerus yang merupakan bagian dari proses menuju kualitas kehidupan generasi kini dan mendatang yang lebih baik secara ekonomi dan sosial dalam batas daya-dukung suportif sumberdaya alam dan daya-tampung asimilatif lingkungan, maka definisi pembangunan berkelanjutan bagi Kota Jakarta adalah :

Proses pembangunan yang mendukung peningkatan produktivitas dan kualitas kehidupan kota dan warga Jakarta melalui peningkatan daya-dukung dan daya-tampung sumberdaya alam dan binaan Kota Jakarta yang ditunjang oleh peranserta warga kota dan tanggungjawab kompensasi bagi dukungan jasa ekologis dari wilayah lainnya..

Definisi di atas memiliki pengertian sebagai berikut :

  1. Kota Jakarta tumbuh dan berkembang kini hingga masa mendatang untuk menciptakan produktivitas yang senantiasa meningkat sebagai kontribusi terhadap kepentingan Nasional.
  2. Kota Jakarta menjamin kualitas kehidupan warganya kini hingga masa mendatang untuk mendukung tercapainya peningkatan produktivitas.
  3. Kota Jakarta tumbuh dan berkembang kini hingga masa mendatang melalui inovasi peningkatan daya-dukung dan daya-tampung lingkungan.
  4. Kota Jakarta tumbuh dan berkembang kini hingga masa mendatang melalui dukungan peranserta warga kota secara nyata dalam peningkatan kualitas kehidupan dan lingkungannya.
  5. Kota Jakarta tumbuh dan berkembang kini hingga masa mendatang oleh dukungan wilayah lainnya dalam pemenuhan kebutuhan kehidupan kota dan warganya.
  6. Kota Jakarta tumbuh dan berkembang kini hingga masa mendatang berkewajiban untuk  memberikan kompensasi terhadap wilayah lain yang mendukung kehidupannya.

Secara umum, kinerja keberlanjutan pembangunan Kota Jakarta dapat dievaluasi sebagai berikut :

  1. Sebagaimana kawasan perkotaan lainnya, Kota Jakarta memiliki kendala dalam ketersediaan lahan, terutama jika dikaitkan dengan jumlah penduduk dan kegiatan ekonomi, sosial, dan pemerintahan yang berada di Kota Jakarta. Dalam keterbatasan lahan yang tersedia, pada saat ini Kota Jakarta mencatat lahan terbangun sekitar 66,42%. Artinya masih tersedia lahan yang berpotensi dan dapat berfungsi sebagai ruang terbuka hijau dan non-hijau.
  2. Harga lahan yang tinggi mengisyaratkan penggunaan lahan lebih bersifat fungsional, termasuk penyediaan RTH bagi Kota Jakarta. Hubungan kebutuhan dan ketersediaan RTH di Kota Jakarta berprinsip pada optimasi tanpa mendasarkan pada status kepemilikan lahan, sehingga dalam jangka panjang dimungkinkan tersedia RTH yang fungsional.
  3. Transportasi yang menjadi salah satu pertimbangan keberlanjutan Kota Jakarta berada pada kondisi pelayanan menurun sebagaimana diindikasikan oleh kemacetan lalu-lintas pada jam sibuk terutama pada ruas jalan utama, koridor lingkar dalam, dan di sekitar pusat bisnis. Kinerja pelayanan prasarana jalan dan sarana transportasi telah melampaui threshold efisiensi waktu tempuh dan tingkat pelayanan, sehingga mengakibatkan transport cost menjadi jauh lebih tinggi. Di samping itu juga menurunkan faktor kenyamanan dan keamanan pergerakan orang dan barang.
  4. Pelayanan utilitas perkotaan di Kota Jakarta terutama air bersih dan persampahan terkendala oleh ketergantungan pada daerah di luar Jakarta dalam penyediaan air baku air bersih dan lahan TPA, sehingga Kota Jakarta menjadi rentan untuk menjamin penyediaan air bersih dan mengelola sampah warga kotanya. Sumber air baku juga menjadi kendala dalam pengendalian pemanfaatan airtanah untuk kebutuhan domestik dan komersial, dimana penggunaan airtanah secara terus-menerus dapat memperbesar kejadian amblesan tanah (land subsidence) di Kota Jakarta.
  5. Keterbatasan lahan di Kota Jakarta menyebabkan pembuangan sampah akhir dilakukan di Bekasi. Penggunaan sistem sanitary landfill mengakibatkan areal yang tersedia semakin terbatas dan pada gilirannya tidak dapat menampung sampah berasal dari Kota Jakarta.
  6. Konsumsi listrik Kota Jakarta tercatat sangat besar, bahkan dua kali lipat lebih besar dibandingkan konsumsi seluruh wilayah Bodetabek. Kecenderungan peningkatan konsumsi listrik setara dengan peningkatan kegiatan ekonomi dan sosial di Kota Jakarta. Namun konsumsi listrik yang tinggi menjadi rentan terhadap gangguan operasi instalasi pembangkit listrik dan jaringan distribusi. Di samping itu, konsumsi listrik belum didukung oleh penghematan dan konservasi energi.
  7. Pemantauan kualitas udara ambien di Kota Jakarta menunjukkan bahwa berdasarkan hari ISPU kondisi kualitas udara terkategori baik. Walaupun diklasifikasikan sebagai kota dengan kualitas udara buruk, namun hasil pemantauan konsentrasi pencemar udara belum menunjukkan pelampauan baku mutu secara berlebihan.  
  8. Sebagai pilar penting dalam menunjang keberlanjutan pembangunan Kota Jakarta, masih dihadapi kesenjangan sosial dan ekonomi yang menjadi kendala dalam bersinergi dan  berperanserta dalam pembangunan. Dualisme kehidupan sosial dan ekonomi dalam jangka panjang dapat menjadi tradeoff yang bersifat negatif dalam pemerataan pemanfaatan sumberdaya perkotaan

Sedangkan secara spesifik kinerja keberlanjutan pembangunan Kota Jakarta dapat dievaluasi sebagai berikut :

  1. Kota Jakarta secara fisik sangat rentan terhadap kejadian banjir dan genangan.
  2. Kejadian banjir dan genangan di Kota Jakarta dipengaruhi oleh pelestarian DAS di hulu 13 sungai yang melintasi Kota Jakarta, okupasi lahan tanpa ijin pada sempadan dan di atas badan sungai, dan peranserta masyarakat dalam pemeliharaan badan sungai dan pengendalian pemanfaatan airtanah.
  3. Sebagai bagian dari tata air Jakarta, semakin berkurangnya luasan situ dan waduk memperburuk kejadian banjir dan genangan.
  4. Sebagai dataran rendah, Kota Jakarta juga rentan terhadap pasang laut yang menggenangi kawasan pantai.
  5. Intrusi air laut semakin masuk ke arah darat, selain disebabkan oleh faktor fisik, juga dipengaruhi oleh pengambilan airtanah yang tidak terkendali.

Kebutuhan Akan Inisiatif dan Strategi Untuk Mewujudkan Pembangunan Kota Jakarta Yang Berkelanjutan

Untuk mewujudkan pembangunan Kota Jakarta menuju proses yang lebih berkelanjutan, maka disiapkan berbagai prakarsa untuk memandu arah yang dituju. Pada hakekatnya, prakarsa menuju keberlanjutan pembangunan akan bersifat komprehensif, sejak perencanaan, implementasi, hingga pengendalian pada berbagai skala mulai prakarsa dan tindak pembangunan berskala makro hingga aktivitas individual. Prakarsa tersebut meliputi : Inisiatif Pembangunan Berkelanjutan Kota Jakarta, dan Strategi Pembangunan Kota Jakarta Yang Berkelanjutan.

Inisiatif Pembangunan Berkelanjutan Kota Jakarta

Pembangunan Kota Jakarta yang berkelanjutan dapat diwujudkan melalui inisiatif berbagai pihak yang pada jangka panjang berorientasi menghimpun kapasitas secara sinergis dalam keragaman kepentingan. Pada skala agregatif kepentingan kota (city wide), maka peran Pemerintah Daerah DKI Jakarta menjadi sentral. Kepentingan tersebut dapat namun tidak selalu terbangun secara simultan oleh sekumpulan dan himpunan inisiatif lokal dan parsial. Inisiatif lokal dan parsial dapat melangsungkan dan menyelenggarakan kepentingannya secara khusus dan spesifik tanpa terkait dengan kepentingan yang lebih luas dari kelompok atau komunitasnya, yang akan menghasilkan kinerja inkremental yang berdaya guna dan berhasil guna setempat.

Gambar 1 : Skema Inisiatif Pembangunan Berkelanjutan

Strategi Pembangunan Kota Jakarta Yang Berkelanjutan

Strategi pembangunan Kota Jakarta berkelanjutan meliputi aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial. Strategi pembangunan tersebut tidak selalu bersifat komplementer secara sempurna, oleh karena pembangunan kota membutuhkan prioritas sesuai dengan kepentingan kota dan warga kotanya. Oleh karenanya, implikasi penerapan berbagai strategi berikut tidak dapat dihindari kemungkinan menimbulkan tradeoff antara salah satu aspek terhadap aspek lainnya. Kemungkinan tersebut dapat diindikasikan oleh kinerja ruang kota, dimana prioritasi terhadap aspek ekonomi akan memberikan dampak terhadap keberlanjutan aspek lingkungan dan sosial, demikian pula sebaliknya. 

Secara terpisah, strategi bagi keberlanjutan pembangunan Kota Jakarta meliputi :

Peningkatan dan Kestabilan Pertumbuhan Ekonomi dan Kesejahteraan 

Kota Jakarta berperan sebagai indikator pertumbuhan ekonomi Nasional, di samping memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian Nasional. Dalam jangka panjang pertumbuhan perekonomian Kota Jakarta selaras dengan pertumbuhan ekonomi Nasional, yakni sekitar 7% hingga 8% per tahun dengan dukungan sektor jasa keuangan dan perdagangan. DI samping itu, sektor lainnya yang diharapkan menunjang pertumbuhan ekonomi Kota Jakarta adalah pariwisata dan industri kreatif.

Di samping laju pertumbuhan ekonomi yang diharapkan meningkat secara stabil, Kota Jakarta membutuhkan pemerataan hasil pembangunan untuk memperkecil kesenjangan kesejahteraan antar warga kota (urban devide). Ke arah tersebut perlu dibuka akses yang luas bagi warga untuk berusaha dan meningkatkan produktivitasnya melalui pemberian insentif, penyediaan fasilitas keuangan dan prasarana fisik, dan memperluas jalur pertambahan nilai produksi barang dan jasa.

Konservasi Sumberdaya Alam

Konservasi sumberdaya alam pada dasarnya merupakan tanggungjawab seluruh pihak untuk meminimalkan jejak ekologis (footprint) secara bersama-sama, sehingga ketersediaan sumberdaya alam dapat dipertahankan selama belum tersedia substitusi pengganti yang lebih terbarukan dan tidak mencemari lingkungan. Prinsip utama konservasi sumberdaya alam adalah efisiensi dan penghematan penggunaan dan pemanfaatan sumber energi, air, dan bahan dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Termasuk dalam konservasi sumberdaya alam adalah :

  1. Energi, melalui efisiensi energi, diversifikasi energi yang lebih terbarukan, dan audit energi.
  2. Air bersih, melalui penghematan (reduce) penggunaan air, daur-ulang (recycle), pemanfaatan kembali limbah cair untuk keperluan lain (re-use), dan memperpendek daur hidrologis melalui peresapan airtanah dan mengendalikan air larian.
  3. Bahan dan material, melalui penghematan dan efisiensi penggunaan bahan, substitusi bahan terbarukan, dan pemanfaatan kembali (recycle dan re-use) limbah menjadi produk.
  4. Pemanfaatan bahan dan produk yang bersifat biodegradable agar limbah yang terbuang ke lingkungan dapat terdekomposisi dan terurai.

Pelestarian Lingkungan

Pelestarian lingkungan diupayakan melalui pencegahan kerusakan lingkungan dan pengendalian pencemaran. Termasuk dalam pelestarian lingkungan adalah :

  1. Pencegahan kerusakan lingkungan, melalui pengendalian perubahan bentang alam, pencegahan penggunaan sumber alam secara berlebih, diversifikasi bahan baku dan bahan penunjang, dan pengendalian alih fungsi lahan.
  2. Penggunaan lahan kota yang memberikan peluang fungsi ekologis dapat berlangsung, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas kehidupan warga kota. Perluasan lahan terbangun secara terus-menerus akan mengurangi kesempatan terbangunnya ruang terbuka untuk pengendali pencemaran udara, pendukung daur hidrologis, pengaturan iklim mikro, pelestarian keanekaragaman hayati, ruang interaksi sosial, pembentuk estetika kota, dan lainnya. 
  3. Pencegahan dan pengendalian pencemaran lingkungan yang akan menurunkan kualitas lingkungan, melalui minimisasi limbah, pengolahan limbah, produksi bersih (cleaner production), daur-ulang (recycle) limbah, dan pengumpulan dan pengolahan B3.

Peranserta dalam Pengendalian Perubahan Iklim

Peranserta dalam pencegahan perubahan iklim (climate change) yang pada gilirannya akan memberikan dampak bagi kehidupan warga Kota Jakarta diupayakan melalui :

  1. Adaptasi perubahan iklim, melalui antisipasi terhadap kenaikan muka laut, antisipasi terhadap kenaikan suhu udara, dan antisipasi terhadap fenomena iklim ekstrim.
  2. Mitigasi perubahan iklim, melalui pengendalian emisi uap air dan gas rumah kaca, aplikasi teknologi pengurangan emisi gas rumah kaca, dan penurunan konsumsi bahan penghasil gas rumah kaca.

Perkuatan Peranserta Masyarakat Dalam Pembangunan Berkelanjutan

Peningkatan peranserta masyarakat dalam pembangunan berkelanjutan didasarkan pada kenyataan bahwa keberhasilan pembangunan selain dibangun oleh pihak yang berwenang (government), juga oleh partisipasi aktif masyarakat. Peranserta masyarakat merupakan gradasi dari dimensi kesadaran (awareness) hingga terlibat secara nyata dalam upaya membangun secara berkelanjutan. Peranserta masyarakat meliputi :

  1. Kesadaran (awareness) terhadap kepentingan pribadi dan kepentingan bersama yang bersifat positif bagi kelangsungan kehidupan, di antaranya cara membuang sampah, penghematan penggunaan listrik dan air, pemanfaatan lahan berijin untuk bangunan dan kegiatan, dan lainnya
  2. Diseminasi pengetahuan dan pemahaman terhadap pihak lain, diantaranya untuk mempengaruhi dan memotivasi kelompok atau komunitas dalam menyelenggarakan kepentingan bersama yang bermanfaat bagi kelangsungan kehidupan, termasuk bagi masyarakat luas, seperti penyuluhan dan pemberian informasi tentang pelestarian lingkungan, penghematan energi dan air, adaptasi perubahan iklim, dan lainnya
  3. Tindak nyata secara individu dan berkelompok, diantaranya melalui gotong royong pembersihan sampah dan saluran drainase, penerapan green building, komunitas bike to work untuk mengurangi emisi gas buang kendaraan, dan lainnya
  4. Pengorganisasian kapasitas kelompok atau komunitas untuk mempengaruhi, melakukan tindak nyata, dan berkomunikasi dengan kelompok lainnya, diantaranya melalui kampanye pembangunan berkelanjutan secara melembaga, pemberian insentif dan penghargaan, dan membangun komunikasi dengan kelompok lainnya untuk transfer pengetahuan dan teknologi, dan lainnya
  5. Akses dan transformasi kapasitas kelompok menuju kapasitas bersama warga kota atau terintegrasi ke dalam sistem pengelolaan pembangunan kota.

Prasyarat untuk meminimalkan tradeoff prioritasi strategi untuk salah satu aspek terhadap aspek lainnya adalah dengan memperhatikan dampak yang ditimbulkan secara timbal-balik. Peningkatan pertumbuhan ekonomi Kota Jakarta sekaligus menjaga kestabilan pertumbuhannya jika dilaksanakan tanpa mempertimbangkan dampak terhadap aspek lingkungan dan aspek sosial dapat menimbulkan kerusakan dan penurunan kualitas lingkungan yang signifikan, sekaligus akan menurunkan kualitas hidup warga Kota Jakarta. Demikian pula jika pembangunan Kota Jakarta semata-mata hanya dilaksanakan untuk tujuan pelestarian lingkungan, maka akan mengakibatkan ketidakstabilan pembangunan secara Nasional. Oleh karenanya, pertumbuhan perekonomian Kota Jakarta perlu dibangun melalui cara yang ramah lingkungan sekaligus meningkatkan akses warga kota terhadap sumber-sumber ekonomi dan pelayanan publik yang lebih memadai.

Dalam hal ini, perlu dipertimbangkan beban yang ditimbulkan oleh pembangunan salah satu aspek terhadap aspek lainnya sehingga tidak melampaui daya-dukung dan daya-tampung masing-masing. Beban yang berlebih dan melampaui threshold akan menimbulkan ketidak-seimbangan, dalam kondisi nyata teridentifikasi melalui permasalahan lingkungan, sosial, dan ekonomi di Kota Jakarta, seperti kejadian banjir, kemacetan lalu-lintas, pasokan air bersih yang terbatas, ketegangan sosial, dan sebagainya.

Keterangan :

1. Ditulis pada tanggal 19 April 2012.

2. Tulisan ini medrupakan karya bersama dari :

     a. Fitri Indra Wardhono

     b. Hesti Nawangsidi

3. Sumber :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s